Sabadunya’s Weblog

November 7, 2009

Duduknya pengantin

Filed under: sabadunya — by aan @ 4:54 am

Sebenarnya ini sesuatu yang kudengar sudah lama, yaitu ketika aku akan menikah Juli 2007 silam…itu perbincangan antara bapakku dengan perias pengantin yang juga temanku mengaji, bu betty. Tapi aku jadi ingat lagi gara-gara beberapa hari lalu melihat foto pernikahan temanku…

Ini soal sepele kelihatannya atau malah sudah dianggap tradisi yang benar.. tapi aku sekadar ingin berbagi mengenai perbincangan tersebut. Saat itu bu betty bertanya kepada bapakku, atau sebaliknya (aku lupa hehe) mengenai, “apakah pengantin perempuan akan ikut menyaksikan akad nikah, atau akan menunggu di dalam, sampai akad selesai, baru keluar?”
lalu mereka berdua bertanya padaku, bagaimana? aku bilang, “aku ingin lihat proses akad nikah itu”… sebagaimana diketahui, dalam aturan agama kita, perempuan memang tak wajib hadir dalam akad nikah… istilah salah seorang ustad, dalam ceramah yang pernah aku dengar, bahkan pengantin perempuan boleh kok jalan-jalan di mall saat akad nikah berlangsung :) tapi kan nggak kebayang kalo itu terjadi, sementara di rumah ada perhelatan suci, kok pengantin perempuannya keluyuran hehehe… tapi itu penjelasan esktrem mengenai, ketidakhadiran pengantin perempuan di ruang akad nikah, memang tidak wajib..
nah, mendengar jawabanku yang ingin melihat akad nikah berlangsung, maka bapakku bilang : “tolong bu, nanti anak saya duduknya di sebelah saya…setelah akad nikah berlangsung, saya bertukar duduk dengan pengantin pria…”
kemudian bapakku menjelaskan bahwa, sebelum menikah, maka perempuan dan laki-laki itu belum sah statusnya sehingga mereka belum boleh duduk bersanding… sekalipun untuk akad nikah. sehingga sesungguhnya, yang benar adalah pengantin perempuan menunggu di dalam, setelah akad nikah berlangsung barulah pengantin perempuan ini keluar dan duduk bersanding bersama pengantin laki-laki… sebab mereka sudah sah menjadi suami-istri… sesuai aturan agama, yang semula haram menjadi halal…
dalam hal pengantin perempuan ingin menyaksikan acara akad nikah, maka tetap… sebelum akad nikah berlangsung dengan sah, maka kedua calon pengantin tak boleh duduk berdampingan… bu betty mengamini yang diungkapkan bapakku…
“Iya pak, saya sepakat… ” ujar bu betty mengangguk-angguk…
bapakku menambahkan, “kita yang mengerti.. seharusnya mempraktekkan yang kita pahami dan kita ketahui bahwa itu benar menurut ajaran agama.”
Lalu bu betty menambahkan bahwa, “memang banyak tradisi dalam pernikahan yang sebenarnya tak sesuai dengan aturan agama kita… dan ini sulit sekali untuk diluruskan.”
ia mencontohkan hal lain, mengenai acara sungkeman pengantin. Kata dia, “seharusnya kan setelah menikah, istri itu mengikuti suami… jadi pas sungkeman itu, seharusnya bersama-sama menuju orangtua pengantin pria setelah itu kemudian bersama-sama menuju orangtua pengantin perempuan…tapi yang terjadi selama ini, begitu sungkeman, masing-masing sungkem kepada orangtua masing-masing… itu kan praktek yang kurang benar…”
karena itu, sambung bu betty, ia mengaku gembira bertemu dengan bapakku yang bisa sesuai dalam pemahaman aturan agama…
aku mendengarkan perbincangan itu, dan baru menyadari bahwa betapa ada hal-hal prinsip yang musti diketahui tetapi selama ini dianggap sebagai tradisi yang benar…
dan mengubah tradisi itu sama sekali tak mudah…
aku jadi ingat kata ustad Aam Amiruddin, bahwa selama ini kita hidup mempraktekkan agama yang bercampur dengan tradisi… praktek yang seharusnya dikikis pelan-pelan dan itu adalah tugas ulama di zaman ini… pelan-pelan harus mulai mengajarkan yang benar menurut ajaran agama… dan tidak membiarkan praktek-praktek budaya menyusup ke dalam ajaran agama.. “tapi memang itu tidak mudah, tetapi harus dimulai,” kata ustad aam.

aku menulis ini, tidak bermaksud mengatakan bahwa kami sudah melakukan hal yang benar dan orang lain salah tapi aku hanya ingin share… jika ada yang berpendapat lain, aku sama sekali tak ingin mengajak berkonfrontasi atau bermusuhan… toh sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Tahu… dan tugas kita hanyalah berikhtiar, ikhtiar yang tak pernah boleh putus karena merasa puas atau merasa sudah cukup…wallahu alam.

September 25, 2009

Toilet “Islami”

Filed under: sabadunya — by aan @ 1:50 am

Salah satu materi yang diajarkan oleh Barbara, cross culture lecturer di IALF Jakarta, kepada kami sebelum berangkat ke Australia adalah “bagaimana, jika kamu berkunjung ke rumah temanmu yang Australian, dan ingin ke toilet sementara kamu tahu bahwa di toilet sana, tak ada air, hanya tissue?”
dia memberikan empat alternatif jawaban, tapi tak satupun yang “sreg” dengan pilihan kami, para muridnya. seorang temanku berkata, dia akan ngotot minta air ke temannya, soalnya “hihhhh…masa abis buang air ga cebok”…hehehe…
sementara yang lain berkata, akan membawa botol air mineral (di dalam tas) ke dalam toilet, tetapi menurut Barbara,”Kamu kan sedang bermain ke rumah dia, masa ke toilet bawa2 tas… dia akan tersinggung dikira kamu tidak percaya padanya sehingga membawa-bawa tas hanya untuk ke toilet”
huhhh… urusan ke toilet aja, bikin puyeng :)
menurut Barbara ketika itu, tak ada jalan lain kecuali menggunakan toilet tissue yang ada di toilet tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Nita, seorang temanku yang emang sering jail dengan pertanyaan2nya, ketika chating denganku bertanya juga mengenai hal yang sama,”Gimana rasanya ke toilet nggak ada air?” lalu aku mengatakan, kelak, kalo aku dah di Australia, aku akan crita padanya…

Nah, ternyata memang urusan ke toilet ini agak pelik, persis seperti yang diceritakan oleh Barbara :) sementara waktu, aku menyiasatinya dengan selalu membasahi tissue yang akan kupakai terlebih dulu, meskipun itupun agak riskan sebab nggak enak juga kalo diliat oleh orang lain, apa yang aku lakukan itu hehehe… seorang temanku yang lain, Nana, memilih untuk membawa botol kecil yang bisa disemprotkan, di dalam tasnya. jadi setiap kali ke toilet, dia selalu membawa tasnya….sebab di dalam tasnya ada botol kecil itu.. Bahkan kepada kedua putrinya masih berusia 6 dan 7 tahun, yang bersekolah di sekolah umum di sini, dia membekali dengan sebuah gelas plastik, sehingga jika ke toilet ketika di sekolah, anak-anaknya tetap membasuhnya dengan air. ia menjelaskan kepada kedua anaknya itu bahwa “kita ini orang islam, kita berbeda dalam hal buang air”
botolseorang kenalan yang lain, selalu membawa botol bekas air mineral di dalam tasnya. begitu ke toilet, si botol akan diisi dulu… baru kemudian masuk ke dalam toilet… cara itu kemudian yang aku ikuti.. bedanya, botol yang aku gunakan lebih kecil.. bekas botol jus ukuran 300 ml… jadi nggak sebesar botol air mineral yang umumnya 600 ml itu.. botol tersebut aku dapatkan setelah “berburu” ke beberapa toko makanan… setiap kali melihat deretan minuman berbotol, aku selalu berpikir… kok nggak ada yang terbuat dari plastik ya, biar ringan… lagipula kalo dari kaca beling, kalo di dalam tas, khawatir mendadak pecah saat si tas diletakkan secara sembarangan…
beberapa bulan kemudian, aku menemukan botol plastik bekas jus… rasa jus nya sih nggak begitu enak, tapi aku kan beli botolnya hehehe.. jadi ya, biarpun tak begitu enak, tetep aku minum sebab perlu botolnya…:)

Urusan menggunakan air setelah buang air kecil apalagi buang air besar, keliatannya sepele yaa.. tetapi bisa jadi runyam kalo budaya setempat ternyata tak sama dengan budaya kita. lagi pula ini bukan semata soal budaya, tetapi juga aturan agama…islam mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia yang bersih, sebab kebersihan itu sebagian dari iman. Nah salah satu yang diajarkan adalah membasuh dengan air setelah usai buang air kecil dan besar…

Aku ingat ceramahnya Brother Aslam beberapa waktu lalu, mengenai anggapan bahwa orang Islam itu seringkali dikatakan kotor dan kumuh, Brother Aslam mengatakan, itu tidak benar sebab orang islam dan non islam jika dibandingkan sesungguhnya lebih bersih orang Islam. Kata dia, “kalo ada orang Australia, sama-sama lahir dan besar di Australia, yang satu muslim dan yang satunya non muslim, maka akan lebih bersih orang Australia yang Muslim, sebab dia kalo ke toilet akan membasuhnya dengan air, bukan hanya dengan tissue, dia pun wudhu sehari lima kali.”
IMG_1426IMG_1427
Jadi begitulah, urusan air di toilet ini menjadi issue yang cukup vital… Yang unik, toilet di Australia ini standar.. jadi agak sulit untuk menemukan toilet di rumah manapun yang menggunakan selang air, di dekat toiletnya. Nah, orang-orang Muslim di sini, dan juga masjid maupun sekolah Islam, menyiasatinya dengan menempatkan teko menyiram bunga di dalam toilet. jadi setelah buang air kecil/besar… kita bisa membasuh diri dengan air teko tersebut. aku takjub pada awalnya, melihat kreativitas orang-orang Muslim ini.. bagaimana tidak? dengan menggunakan teko ini, artinya mereka tetap menjaga toilet kering, tidak basah apalagi becek gara-gara air yang digunakan seusai buang air. Juga takjub dengan “penemuan” mereka, yang memutuskan bahwa teko adalah alat yang praktis karena bentuknya… tetapi juga isinya cukup untuk digunakan setiap orang…subhanallah…

Di rumahku? hehehe… karena dulu nggak kepikiran mengenai teko tersebut, aku seperti juga beberapa teman lain, meletakkan seember air di dekat toilet dan menyediakan gelas plastik kecil sebagai gayung.. bukannya nggak ada gayung di sini, tetapi harganya cukup mahal.. maklum barang langka.. harga gayung itu sama dengan sekilo harga ayam..:) lagipula dulu aku tak menemukan gayung, jadi berkreasi..gimana caranya.. jadilah pake gelas plastik…
toiletaku senang karena tempat tinggalku, meskipun share house, tetapi aku mendapatkan kamar mandi sendiri.. nggak share dengan teman lain, jadi ya bisa meletakkan ember di dekat toilet tanpa pandangan aneh dari teman serumah yang berasal dari berbagai negara…:)

September 24, 2009

Eid Fitr in Brisbane

Filed under: sabadunya — by aan @ 2:01 am

brisbane
Setelah berpuasa selama Ramadhan, dan mengalami berbagai hal unik selama bulan yang penuh berkah ini… tibalah hari raya, lebaran, eid fitr di Brisbane.
dimulai dengan “kebingungan” mencari kendaraan untuk pergi shalat ied, akhirnya aku dan teman-teman bersepakat menyewa taksi maxi (ukuran gede, penumpang maksimal 10 orang); alhamdulillah lebih mudah sebab aku punya house mate seorang driver taxi maxi..
hari minggu di brisbane adalah hari libur tak cuma untuk orang-orang tetapi juga fasilitas.. public transportation ke berbagai jurusan, baru dimulai pukul 8 pagi.. jadi tak mungkin mengharapkan kendaraan umum untuk pergi shalat ied… apalagi lokasinya tak sebanyak di tanah air.. di sini, hanya beberapa tempat yang menyelenggarakan shalat ied.. sekitar empat ato lima tempat di seluas brisbane ini…itupun umumnya berlokasi di tempat yang jauh dari tempat tinggal, so tak bisa jalan kaki menuju tempat shalat… karena tak bisa dijangkau bahkan dengan berjalan kaki selama 30 menit sekalipun. Karena itu pilihan kendaraannya adalah menyewa mobil (rent car) ato memanggil taksi..
semula kami akan menyewa mobil, tapi ternyata kami kalah cepat.. sebab hari itu adalah weekend maka mobil-mobil rental yang harganya terjangkau itu, sudah lenyap diambil penyewa lain…
Tiba di tempat shalat ied yang kami pilih, di australian international islamic college, kami datang kepagian.. sebab ternyata shalat diselenggarakan pukul 07.30 sementara pukul 06.30 kami sudah tiba di sana.. makanya bisa lihat petugas yang menggelar terpal untuk shalat.. bahkan suamiku dan dua teman lelaki, bantu-bantu ngangkatin kursi serta menyiapkan beberapa hal teknis.. membantu panitia :) alhamdulillah, pagi-pagi sudah bisa memetik pahala dari ladang amal yang tak terduga…insya Allah.IMG_1396
selanjutnya berdatanganlah para jamaah ke tempat shalat yang berlokasi di lapangan belakang sekolah internasional itu…berbangsa-banga.. berbagai budaya.. beragam bahasa dan warna kulit.. tetapi semua bertujuan satu, melaksanakan shalat idul fitri.. mengagungkan asma Allah SWT…IMG_1408
temanku airin berbisik padaku,”terasa banget ya.. bahwa umat islam ini berbangsa-bangsa dan dari berbagai negara.” aku mengangguk.. dan tetap tak henti-hentinya kagum… melihat banyaknya jamaah yang datang dari beragam latar belakang itu…
IMG_1409
IMG_1415
usai shalat, sesama jamaah melakukan peluk cium dan bermaafan.. tentu saja hanya sesama yang kenal dan masih terhitung kerabat. setelah itu, panitia menyediakan sarapan pagi.. rupanya ini merupakan tradisi yang dilaksanakan di sini. panitia menyediakan nasi berbumbu dan lauk (berupa daging & kentang berkuah kari), bagi semua jamaah… setelah mengantri beberapa menit, nasi lezat itupun berpindah ke perut kami..IMG_1433
selesai shalat, kami, para students griffith uni dan keluarganya, berjalan kaki menuju rumah seorang teman sesama student griffith uni… sebab kami berencana melakukan konvoi dengan 4 mobil mengunjungi “sesepuh” indonesia di brisbane.. yaitu Pak Daud dan Pak Iman..
kalo ke rumah Pak Daud, tampaknya hanya students griffith saja.. sementara di rumah Pak Iman, kami bertemu students dari UQ maupun QUT..
tentu saja ini tak sekadar silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk menikmati hidangan ala indonesia.. yakni lontong, opor, sambal goreng kentang/ati, dan makanan khas indonesia lainnya…:)
maklum, di sini susah cari ketupat maupun lontong.. dan lagi kalo masak, sementara yang makan cuma satu orang ato dua orang, kan kurang seru… jadi lebih baik bersilaturahmi ke rumah teman-teman indonesia yang melakukan “open house” jadi..bisa makan makanan indonesia hehehe…
suamiku sih masak beberapa jenis masakan khas lebaran, tentu saja dalam jumlah kecil sebab hanya untuk kami berdua.. tetapi kami gagal membuat lontong…mungkin salah baca resep… dan ketika airin datang ke rumah untuk bermalam, ia mengaku melihat di youtube mengenai cara pembuatan lontong dengan bungkus aluminium foil, ya udah.. sudah jam 10 malam pun, aku ke dapur dan mencoba membuatnya.. hasilnya, nggak begitu mirip tapi yaaa…lumayanlah hehehe..IMG_1364IMG_1371IMG_1370
usai ke rumah kedua sesepuh itu, aku dah kelelahan.. sebab malamnya aku tidur jam 01.30, mencoba mencicil mengerjakan tugas.. airin apalagi, jam 3 baru tidur sementara pukul 5 kami harus sudah siap untuk menuju tempat shalat…
bagaimana rasanya idul fitri di luar negeri? bagiku, alhamdulillah tetap unik dan menyenangkan… sebab yang menjadi poin penting adalah pelaksanaan shalat ied, dan kemudian bermaaf-maafan setelahnya…
kalo soal kangen indonesia, kangen keluarga di bandung.. tak cuma terasa pas idul fitri.. kadang pada hari biasa pun itu terasa…
suamiku dan aku, bergantian menelpon ke rumah orangtua kami masing-masing… menyampaikan permohonan maaf dan bertanya kabar…
kukatakan pada suamiku, bahwa kita musti bersyukur dengan kondisi kita saat ini. bahagia bagiku adalah mensyukuri yang ada dan kita miliki saat ini, tak memikirkan hal-hal yang tak terjangkau sebab itu akan menyakitkan hati…aku bahagia bisa bersama suamiku di saat lebaran, dan itu sudah… bukankah kita tak boleh menunda kebahagiaan, hanya karena kondisinya kita rasa belum ideal? kalo menunggu ideal terus, jadinya kita tak pernah bahagia.. dan itu sangat melelahkan…
merindukan suasana idul fitri di tanah air, adalah hal yang wajar.. tetapi sekali lagi aku merasa harus realistis, wong aku di sini untuk belajar kok.. makanya, biarpun lebaran, tetep mengerjakan tugas.. seusai lebaran besoknya langsung kuliah lagi…
alhamdulillah, berlebaran di hari libur..dan benar-benar libur, nah airin malah harus kabur usai shalat…tanpa mendengarkan ceramah, sebab dia harus menuju Gold Coast (sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil) untuk mengejar kelasnya dan melakukan tugas presentasi…
meskipun begitu, alhamdulillah.. aku ikut senang ketika usai presentasi dia menelponku dan berkata dosennya memuji presentasinya… aku bilang,”alhamdulillah berkah di hari lebaran.”
IMG_1416IMG_1423IMG_1424

September 19, 2009

H-1 Idul Fitri

Filed under: sabadunya — by aan @ 7:43 am

Hari ini adalah hari ke-29 Ramadhan.. alhamdulillah, meskipun jungkir balik berjuang selama Ramadhan untuk bertahan di antara puasa, tugas-tugas kuliah, tarawih dan menyiapkan sahur…
bener-bener perlu komitmen dan perjuangan untuk melakukan semua itu.. kadang badan begitu letih sehingga nggak konsentrasi shalat tarawih, kadang pikiran begitu penuh sehingga malah nggak sempat shalat tarawih.. pusing memikirkan banyak kata yang harus ditulis dalam essay, mencari referensi…
ini pengalaman berharga banget buatku.. bagaimanapun, ini adalah Ramadhan yang unik untukku.. tahun-tahun lalu, aku melaksanakan Ramadhan ketika masih bekerja.. jadi pulang kerja, bisa istirahat nggak perlu mikir-mikir tugas ato segala referensi ato janjian ma dosen, ato nilai kuliah yang jeblok dan sebagainya… dulu, ketika masih bekerja, aku buka puasa di kantor..belasan tahun nyaris buka puasa di kantor, sebab itu jam deadline kerjaan.. tapi setelah itu ya sudah, bisa pulang dan tarawih dengan tenang.. bangun sahur juga lebih santai.. apalagi sebelum menikah, hehehe.. ibu yang menyiapkan semua keperluan sahur.. aku tinggal dibangunkan.. dan makan..:)
di sini, puasa pertama kali di negeri orang dengan status sebagai mahasiswa, tapi juga berstatus sebagai istri..
alhamdulillah, suamiku selama Ramadhan ini nggak sibuk jadi bisa full membantuku.. nggak kebayang kalo dia kerja.. pastinya urusan sahur dan buka puasa jadi berantakan..
ya iyalah, wong kami harus memasak makanan sendiri, nggak bisa beli di supermarket.. nggak ada warung-warung kayak di Indonesia.. Ada dua hal kenapa kami tak membeli makanan jadi, pertama harganya mahal.. jenisnya itu-itu saja yang bisa dimakan.. kentang goreng dan seafood, kedua makanan lain tak jelas kehalalannya…
jadi begitulah..
Tapi kalo pas kuliah sih, aku bisa buka puasa di kampus, dengan menu yang bagus dan sehat, tentunya halal… tapi kan suamiku tetep kudu makan di rumah :)
Ramadhan ini bersamaan dengan due date tugas-tugas kuliah.. jadi semakin bertambah tantangannya..
Kayak hari ini, H-1 Lebaran.. biasanya di Indonesia kita semua sudah dalam posisi libur.. ato setidaknya, beban kerja sudah sangat jauh menurun.. di sini? nggak ada bedanya, justru saat ini aku sedang duduk di meja komputer perpustakaan untuk mengerjakan tugas..:(
tadi pagi sms-an ama ibuku, ternyata kakakku sekeluarga belum tiba di bandung, masih kena macet di malangbong.. padahal berangkat dari purwokerto sudah sejak usai berbuka kemarin… kemacetan arus mudik yang tidak terduga, dikirain ke arah barat sepi.. nggak taunya, malah macet :) tapi kata suamiku, “itu kan serunya mudik, serunya lebaran..”
Iya, bener banget.. di sini, nggak ada yang kayak gitu.. ehhh, ada sih, dari kemarin pengerjaan tugas-tugasku “diinterupsi”oleh urusan sewa taksi buat shalat ied besok…
maklum, di Brisbane ini kalo weekend, yang namanya public transportation pun ikutan liburan.. jadi baru ada bus sekitar pukul 8 pagi dari terminal dekat rumahku.. padahal shalat ied kan dimulai pukul 6.30. makanya bersama teman-teman kampus, kita menyewa taksi.. urusan penjemputan dan sebagainya
Selebihnya, H-1 lebaran ya cuma begitu aja.. tadi malam suamiku bilang mau masak sedikit istimewa buat lebaran, tapi sampe tadi pagi aku berangkat ke kampus, dia masih nyenyak tidur.. ya udah, gimana aa aja deh.. aku mah ikut aja.. toh makna lebaran bukan karena makanannya, tetapi kita musti berpikir, apakah kita ini sudah menjadi hamba yang lebih baik dibandingkan sebelum ramadhan?
Konon, kalo ibadah kita tak berubah menjadi lebih baik, maka kita menjadi orang yang merugi… bayangkan saja, di bulan yang penuh berkah dan ampunan itu, kita berlaku biasa-biasa saja.. seolah sama dengan bulan-bulan lain, malah sibuk berpikir hal-hal yang bukan substansi.. alangkah meruginya kita…
hmmm, seperti yang aku sadari hari ini, aku merasa ibadahku selama Ramadhan ini sangat kurang… sangat jauh dari sempurna, banyak yang tertinggal.. belum lagi hati dan mulut yang sering tergoda… duhhhh, Ya Allah, tolonglah aku…
Apapun, aku telah berusaha memperbaiki diri.. mungkin baru sedikit sekali, aku juga coba merenungkan apa yang sudah aku lakukan… mengevaluasi diri… dan menjadi malu hati sebab begitu compang-camping ibadahku ini.. sedangkan permintaanku pada Allah sangat banyak, sangan menuntut, kepengen ini dan itu… maafkan aku ya Allah..
Insya Allah besok Idul Fitri, semoga rencana shalat ied berjalan lancar dan mendamaikan semua hati… alhamdulillah aku bisa berkonsentrasi untuk shalat ied besok sebab tak perlu memikirkan kelas (meskipun tugas teteplah ada dan dipikirkan…) sebab salah satu temanku, harus masuk kelas pada hari lebaran besok, hari minggu, dan melakukan presentasi… duhhh, romantika sekolah di negeri yang tak meliburkan hari idul fitri yaaa…

September 4, 2009

berhenti bekerja

Filed under: Uncategorized — by aan @ 2:42 am

ada banyak alasan orang untuk berhenti bekerja.. ada yang memang mengundurkan diri, ada yang terpaksa mengundurkan diri dan ada pula yang dipecat alias di-PHK (pemutusan hubungan kerja)…
alasan tersebut menjadi dasar bagi setiap orang untuk menyikapi masalah yang timbul setelah itu… contoh konkretnya, belum lama ini aku mendapat kabar bahwa beberapa temanku dipecat dari tempat bekerjanya… apakah mereka sedih? tentu saja, meskipun kadar kesedihannya mungkin berbeda.. tapi pastinya mereka tak menyangka akan dipecat, dengan cara yang kurang bijak, tanpa ada sinyal apapun sebelumnya dan disampaikan dengan cara yang tidak bersahabat…
informasi pemecatan itu, membuat sipenerima bingung.. sebab dia tak siap, dia tak tahu akan melakukan apa setelah itu… jadi tentu saja, merasa limbung di awal adalah suatu yang wajar…
sebagian orang menjadi stress bahkan depresi karena dipecat, juga wajar.. mengapa? sebab memang kondisi itu tak pernah dipikirkan sebelumnya oleh si penerima.. jadi dia kaget dan tak siap…
tetapi kalo seseorang dengan sadar mengundurkan diri, maka dia berarti sudah siap untuk keluar dari sistem yang dijalaninya selama ini. “aku baik-baik saja meskipun tak lagi bekerja di sana(perusahaan X, misalnya),” ujar seseorang. Yaaaa…tentu saja, bukankah mengundurkan diri dengan kesadaran sendiri adalah hasil pemikiran yang matang, sudah dipertimbangkan baik-buruknya.. dan segala rencana yang ada di depan mata… rencana selanjutnya…
jadi justru aneh, kalo dia mengundurkan diri dengan sukarela lalu kemudian merasa stress dan sedih.. kalopun dia mengalami hal itu, berarti pertimbangannya saat memutuskan untuk keluar kerja itu, belum matang… belum optimal berpikir dan terburu-buru..
bagaimana dengan penyebab ketiga, “terpaksa mengundurkan diri?” hal ini dikarenakan kondisi yang menyebabkan seseorang terpaksa mengundurkan diri, sebab tak lagi ada pilihan… dia tak ingin keluar tetapi segala sesuatunya tak lagi memberikan dia peluang untuk bertahan sehingga terpaksa dia mengundurkan diri..
ini tipe yang berada di tengah-tengah, jadi mengalami kesedihan juga tetapi tak sedalam mereka yang dipecat..
aku, pernah mengalami posisi ini..:)
aku tak ingin keluar dari perusahaan tempatku bekerja, tetapi aku terpaksa keluar sebab pilihan yang ada hanya mengarah ke sana.. ya sudah, akupun memantapkan diri untuk keluar.. dan benar, aku memang sedih di awal, karena sebenarnya akupun tak ingin melakukan hal tersebut. aku melakukannya karena terpaksa… situasi lain yang menjadi pilihanku lebih menyakitkan dan merugikan, jadi kupilih jalan tengah…kupilih jalan yang kukira bisa menjadi jalan keluar terbaik..
sekarang sih,alhamdulillah aku sudah merasa nyaman dengan situasiku saat ini… setidaknya aku merasa bahwa inilah yang terbaik untukku…. meskipun kalo ada orang yang mengatakan,”sayang sekali, mengapa kamu keluar?” aku masih ingin mengiyakan, sebab memang aku pun sebenarnya masih punya rasa suka dengan pekerjaanku yang dulu.. tapi apa mau dikata? pilihannya tak sebaik peluang yang ada.. tak imbang…
nah, bagi teman-temanku yang baru saja dipecat, apapun alasannya… mari merenung sejenak, berintrospeksi diiri.. apakah yang kurang dari pekerjaan yang lalu.. dan apa yang kita rasa perlu diperbaiki ke depan..
apakah rencana kita selanjutnya… itu lebih baik, ketimbang hanya memikirkan mengenai “ketidakadilan” yang kita terima… toh semua sudah terjadi, dan kalopun ada kesempatan untuk kembali.. setelah semua hal itu terjadi, pastinya kita tak mau kembali kan?
jadi melangkahlah terus.. insya Allah, di depan sana ada banyak kesempatan yang lebih baik…

September 2, 2009

Berbuka puasa di Kampus Griffith

Filed under: sabadunya — by aan @ 2:13 am

bunga 1bunga 3bunga 2bunga 4
Saat ini sudah masuk musim semi (spring), bersamaan dengan hari kesebelas Ramadhan. Setelah menjalani sepuluh hari berpuasa di Brisbane, aku bisa merasakan bahwa berpuasa di negeri dengan penduduk Muslim minoritas, tak jauh beda dengan berpuasa di tanah air. Apalagi di musim semi begini, tidak panas tapi tidak juga dingin.. hanya angin bertiup cukup lumayan… makin lumayan sebab perut dalam keadaan kosong, jadi cuaca semakin terasa dingin..
Tapi Alhamdulillah, aku senang dengan cuaca ini… cukup bersahabat, kecuali di kampus kadang harus bersebelahan komputer dengan students yang sedang makan siang.. hmmm, bau makanannya membuat pikiran melayang..:) ini nggak seberapa, toh selama ini pun, kalo bulan puasa sudah memasuki hari ke sepuluh dan seterusnya, nuansa Ramadhan di tanah air kian menipis dan bergeser ke nuansa lebaran…
Di luar semua itu, aku bahagia sebab kampusku ternyata menyediakan buka puasa bersama, setiap hari selama Ramadhan ini, secara gratis. Yup, kampusku yang kata banyak orang adalah “hanya kampus kecil” ( dan banyak yang menyangka sebagai universitas swasta…padahal negeri, karena kurang terkenal, sudah begitu lokasi kampusnya yang berada di tengah hutan lindung..hehehe) menyediakan santapan yang lezat setiap berbuka puasa..
ketika adzan magrib dikumandangkan, para Muslim dan Muslimah yang berada di mushala kampus (yang sejuk dan bersih) segera menyantap kurma yang lezat… tentang ini temanku terheran-heran,”kalo di Indonesia, kurma kayak gini sebungkus harganya Rp 58 ribu…pantesan enak..”, katanya. selain itu pula air mineral, dan kadang-kadang ada tambahan berupa yoghurt atau susu. setelah berbuka dengan kurma dan minnum, kami melaksanakan shalat magrib.
Usai itu, kita bergerak ke common room, tak jauh dari mushala.. untuk menyantap dinner (makan malam). menunya lebih sering menu makanan Arab… nasi berbumbu dan lauknya, kadang ayam bakar, kadang kambing gule, kadang ayam kari dsb… untuk minumnya, tersedia cola atau kadang diselingi jus. menu 1menu 2
untuk semua ini, kami tak perlu mengeluarkan uang.. sebab griffith university muslim student association (GUMSA) menyediakannya.. aku belum tahu pasti, dari mana mereka — GUMSA– memperoleh dana untuk menyediakan buka puasa dan makan malam setiap hari selama Ramadhan secara gratis ini.. tapi kalo melihat bagaimana indah dan sejuknya mushala kampus kami, yang pembangunannya dibiayai antara lain oleh pemerintah Arab saudi, maka aku kira pendanaan untuk iftaar (buka puasa) ini pun tak jauh beda…
yang menarik, para sisters (muslimah) dipersilakan untuk duduk di ruang tunggu, dan menunggu dilayani oleh brothers yang bertugas. sementara para brothers (muslim) yang lain, harus antre untuk mendapatkan makanan…
temanku berkata,” waahhhh… ini harus disampaikan ke orang indonesia ya, bahwa perempuan itu dilayani, bukannya melayani” katanya berkelakar..
aku mengira, pelayanan untuk para sisters ini dikarenakan adanya pengaruh dari budaya Arab — memang di kampusku kebanyakan muslim adalah orang Arab — yang sangat tegas melarang percampuran lelaki dan perempuan. Demi menghindari percampuran lelaki dan perempuan di dalam antrean mengambil makanan, maka panitia pun memilih untuk melayani para sisters…
“how many plates sister?” tanya panitia yang memang seluruhnya adalah brothers ..alias tak ada panitia perempuan dalam kegiatan buka puasa ini. Dan kami,para sisters, tinggal menyebutkan berapa piring yang kami perlukan, beberapa menit kemudian piring berisi nasi berbumbu dan lauknya, akan diantar ke meja kami..
menyenangkan juga..:)
tapi di hari lain, para sisters dipersilakan mengambil sendiri makanannya, sebab ada cukup banyak makanan yang bisa dibagi.. atau ruangannya memungkinkan untuk menghidangkan buffet bersamaan untuk brothers dan sisters…
kalau sudah berada di ruang makan ini, rasanya seperti berbuka puasa di negeri sendiri…menyenangkan… apalagi kita juga merasakan persaudaraan dengan muslim dari bangsa-bangsa lain, ternyata kita tak sendiri menjadi muslim di negeri bermayoritas penduduk non Muslim ini…

August 26, 2009

Belajar Islam di Australia

Filed under: sabadunya — by aan @ 6:28 am

IMG_1194Semester ini aku memutuskan untuk mengambil mata kuliah pilihan “Islam in the Modern World”…. aku tertarik membaca course outline-nya.. dan karena MA convenor ku mengizinkan, ya sudah aku ambil saja…
setelah masuk ke dalam kelas yang jumlah mahasiswanya hampir 40 orang, aku salut juga. Ternyata, para peminat mata kuliah ini sebagian besar non-Muslim. Yang kulihat berkerudung hanya beberapa orang, lainnya.. ya mahasiswa-mahasiswa bule itu… sebagian Australia tapi ada juga yang dari Eropa… eh, ada juga mahasiswa Asia, dari Cina dan Philipina…
Yang lebih menarik lagi, sebagian besar dari mahasiswa ini mengambil mata kuliah tersebut sebagai mata kuliah pilihan! hanya satu mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini sebagai mata kuliah wajib…

Menarik?
Ya tentu saja, sebab mereka hidup di negara barat.. tepatnya di Australia, dan Islam adalah agama minoritas di sini maupun di Eropa, di Cina dan Philipina… Ketika dosennya bertanya, mengapa mengambil mata kuliah ini, sebagian besar menjawab : saya tertarik mempelajari apa sih Islam itu…
ada yang punya pengalaman pribadi dengan Islam, di masa kecilnya… ada yang penasaran dengan Islam sejak adanya kasus bom 11 september 2002 dan islam menjadi perbincangan terus di media… ada yang penasaran sejak lama dengan Islam, dan ingin tahu lebih dalam… ada juga yang ingin mengetahui islam lebih banyak supaya bisa bekerja di institusi Islam… dan seterusnya… menarik banget mendengarkan jawaban mereka…

Lalu mata kuliahnya seperti apa? Isinya tentang apa islam… di minggu pertama, aku senyum-senyum sendiri mendengarkan isi materi kuliahnya. Gimana enggak? materinya itu sudah aku pelajaran belasan tahun lalu pas aku duduk di bangku SD. Materinya tentang Islam itu agama yang dibawa Nabi Muhammad, Tuhannya orang islam itu adalah Allah, ada Rukun Islam yang terdiri dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan berhaji… Kemudian juga dibacakan oleh pak dosennya, bagaimana isi Alquran… ia membacakan surat Al Fatihah di kelas… Dijelaskan bahwa Nabi Muhammad lahir kapan, ia adalah yatim dan umur enam tahun beliau sudah menjadi yatim piatu dan seterusnya… pokoknya persis pelajaran agama saat SD..
Aku bilang ke temanku, sesama Muslim dari Indonesia, saat selesai kelas tersebut, “Aku tadi kuliah, pelajarannya tentang pengenalan Islam seperti zaman kita di SD dulu…” ujarku padanya dan dia terbahak…

Lalu mengapa aku mengambil mata kuliah ini? pertama, aku ingin tahu seperti apa Islam diajarkan di sini, di universitas umum di Australia… Griffith Uni kan universitas negeri dan mempunyai banyak fakultas (school) tapi juga menarik sebab Griffith mengajarkan mata kuliah ttg studi Islam… aku ingin tahu, apa yang diajarkan dan bagaimana cara dosennya mengajarkan… sebab bagiku, itu juga bagian dari belajar untuk mendakwahkan islam kepada non Muslim..
Kedua, aku tertarik untuk mendengarkan apa kata orang non Muslim, tentang Islam… aku ingin tahu, apa keingintahuan mereka, apa pertanyaan-pertanyaan mereka…
ketiga, aku memang ingin tahu apa yang terjadi di dunia Islam di zaman modern ini… persis seperti nama matakuliahnya… aku memang muslim sejak lahir, tapi aku tak pernah belajar khusus tentang Islam secara formal… selain hal-hal mendasar yang sudah aku pahami sejak dulu, di mata kuliah ini aku pun mendapatkan beberapa hal baru… lebih memahami bagaimana islam dan konteksnya…islam 1
dosennya cerdas, dan bisa memberikan pemahaman yang mendasar sehingga menimbulkan simpati yang mendengarkan… di luar itu, mata kuliah ini juga sulit buatku lho… bacaannya banyak, pake ujian pula… hmmmm, sebenarnya aku tak mau sit in ujian yaa.. sebab pastinya sangat “menakutkan” setelah sepuluh tahun nggak kuliah, dan ujug2 kuliah dengan mata kuliah yang ada ujiannya..
tapi gimana lagi, mata kuliah ini begitu menarik… jadi aku ambil juga.. bismillah aja deh.. dua minggu lagi aku ujian mid semester lho… ngeri juga, tapi ya dijalanin lah…:)
aku sudah mencoba nego ama dosennya, apakah bisa mengganti ujian-ujian tersebut (mid semester test dan final test) dengan tugas essay… semula dia mau mengiyakan, tapi kemudian meralatnya.. haduhhh nasib-nasib.. dia bilang, “saya kira kamu nggak ada kesulitan dengan test itu.. hanya multiple choice, dan jawaban singkat.. dan itu lebih mudah daripada kamu membuat essay 5000 kata..”
jadilah aku menyerah…aku ikuti saja nasehatnya. cuma sebagai mahasiswa postgraduate, dia memberikan beban lebih kepadaku… kata dia, mata kuliah ini untuk mahasiswa undergraduate, karenanya tugas essay nya 2000 kata, tapi “untukmu.. sebagai mahasiswa postgraduate… kamu harus bikin essay 3000 kata…”
hmmmm…baiklah pak…

August 19, 2009

Ramadhan di Negri Orang

Filed under: sabadunya — by aan @ 7:41 am

Ini adalah bagian dari konsekuensi pilihan yang aku putuskan beberapa bulan lalu. Yup, aku memilih untuk melanjutkan studi ke luar negeri, ke australia tepatnya di kota Brisbane… Kini beberapa hari lagi Ramadhan tiba, bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam di manapun berada…
berpuasa di bulan Ramadhan memang penuh kenikmatan, apalagi jika bersama dengan keluarga.. makan sahur bersama, ngantuk-ngantuk dikit hehehe… lalu saat berbuka puasa, berkumpul di meja makan bersama, kemudian dilanjutkan dengan shalat tarawih berjamaah… subhanallah indahnya…
lalu kini, aku tinggal di negeri orang, dengan mayoritas penduduk non-Muslim… jangankan mengalami suasana khas Ramadhan, mendengar suara adzan (dari corong pengeras suara masjid) setiap kali waktu shalat, tak pernah aku alami sejak tinggal di sini… hhhmmm, rindunya pada tanah air.. rindu pada keindahan suasana ramadhan di Bandung…
Tapi ini memang konsekuensi dari pilihan yang aku ambil… bukankah keberadaanku di sini sekarang adalah doa-doa yang senantiasa aku panjatkan bertahun-tahun… ikhtiar dan segala jerih payah yang aku jalankan selama bertahun-tahun… dan, aku harus menerimanya sebagai suatu “paket”, bukan parsial…
jadi, sekolah di negeri orang, dengan beasiswa, ditemani suami alhamdulillah, mendapatkan banyak pengalaman hidup yang baru…tapi ada hal-hal yang terlepas..salah satunya, kebersamaan dengan keluarga besar, nuansa agamis yang kental…
tantangan berpuasa di sini pun berbeda… makanya dalam beberapa ceramah agama yang aku ikuti belakangan ini, selain mengingatkan mengenai Ramadhan, mengenai puasa dan kesehatan, ada hal baru yang aku dapatkan. bagaimana menjawab pertanyaan teman-teman non muslim, tentang puasa….sekaligus hal ini menjadi kesempatan bagi kita sebagai muslim, untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang damai, bukan agama dengan kekerasan…
tantangan dakwah yang menarik bukan?? sebab setiap kita mempunyai kewajiban untuk berdakwah…sampaikanlah walapun satu ayat…

Beberapa ustadz yang memberikan ceramah, menyampaikan hal yang hampir sama… “undanglah teman-teman dan kolega kita yang non muslim, saat waktu berbuka… mereka akan bertanya, mengapa ada acara seperti ini.. dan itulah jalan bagi kita untuk menjelaskan sedikit demi sedikit tentang Islam…”
mengapa persoalan “menjelaskan Islam” menjadi demikian penting? sebab islam adalah minoritas di negeri ini, sementara pada waktu yang bersamaan, media lebih suka memberitakan hal-hal yang buruk tentang islam.. wajah islam di media adalah wajah kekerasan, wajah terorisme… padahal itu bukan ajaran Islam…
sebab islam adalah “rahmatan lil alamin”….rahmat bagi seluruh alam…

ini akan menjadi tantangan baru bagiku, baik dalam melaksanakan ibadah puasa itu sendiri, maupun kesempatan untuk menjelaskan Islam lewat bulan ramadhan ini kepada teman-teman dan lingkungan non muslim…
hmmmm…. bismillah..semoga aku bisa mengambil peluang pahala dari sini.., tolonglah aku ya Allah..amin..

August 16, 2009

Persaingan antarbangsa

Filed under: Uncategorized — by aan @ 6:10 am

Setelah delapan bulan tinggal di Brisbane, aku memahami lebih banyak hal. Salah satunya persatuan sekaligus “persaingan” antarbangsa. Entah di kota-kota lain, entah di negara-negara lain.. tapi di sini, aku menemukan bahwa pekerjaan casual atau part time atau pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh semua orang, ternyata dikuasai oleh bangsa-bangsa tertentu… dan bangsa lain, akan sulit untuk masuk…

Contohnya, pekerjaan sebagai pendorong trolley (kereta belanjaan) di pusat pertokoan (mal), dikuasai oleh orang India. Mereka ada di mana-mana… mau di mal di kota, di mal di pinggiran kota… urusan mengumpulkan kereta belanja ini sudah menjadi kekuasaan mereka. Jika ada sesama orang India yang memerlukan pekerjaan, dan di sisi lain ada orang India yang sudah tidak memerlukan pekerjaan itu, maka si pekerjaan akan dioperkan… Makanya, biarpun pekerjaannya mudah dan bayarannya cukuplah… AUD 10 per jam, (rata-rata bekerja di sini dihargai antara AUD 15-17 per jam), tapi jangan harap, kita sebagai bangsa lain, bisa masuk ke jaringan tersebut…

Pekerjaan sebagai sopir taksi juga dikuasai oleh bangsa India… hampir sama saja, mereka menutup jalur buat orang lain untuk masuk ke pekerjaan tersebut. Sementara toko-toko Asia lebih banyak mempekerjakan mereka yang dari Cina atau Korea atau Taiwan, sebab para pemilik toko asia itu ya bangsa mereka itu.. Lebih parah lagi, di kawasan chinatown, mereka bicara dalam bahasa cina.. semua bacaan dan informasi diberikan dalam bahasa cina.. haduhhh, bener-bener seperti di cina, bukan di australia hehehe…

Lalu orang indonesia menguasai apa? Nah, sepengetahuan aku.. salah satu pekerjaan yang dikuasai oleh orang indonesia adalah cleaner malam di kampus UQ. pekerjaan ini dimulai jam 11 malam atau 12 malam sampai besok pagi jam 6 atau jam 7… jadi para pekerjanya harus menukar jam tidur, mengubah jam biologisnya sehingga melek di waktu yang seharusnya untuk tidur… ini nggak gampang, nggak semua orang bisa melakukan itu… di awal-awal pekerjaan, banyak yang sakit.. tapi karena perlu pekerjaan tersebut, ya sebagian tetep nekad menjalaninya.. gajinya lumayan.. coba saja kalikan dengan jumlah yang aku sebutkan tadi di atas, dengan jamnya.. sebulan dapat berapa?
tapi itu tadi, musti kuat fisik…bener-bener kuat melek, dan penuh strategi agar tidak mengantuk saat bekerja.. kebayangkan, kalo sedang mengepel dengan mesin lalu kita terkantuk-kantuk, jangan-jangan mesinnya jalan sendiri..:)

Untuk bisa masuk sebagai cleaner ini, musti ada orang yang membawa… kalo tidak, jangan harap supervisornya yang bule ini, mau menerima… Biasanya pertanyaannya “kamu kenal siapa di sini?” atau sebaliknya, memang ada teman yang sudah bekerja di sana, membawa kita… jadi si supervisor liat bahwa kita ada ‘penjaminnya’. Itupun belum tentu diterima, sebab pekerjaannya belum tentu ada… tapi kalo sudah keterima, ya akan terus bekerja di sana.. memang ada masa percobaan, itu tadi.. kuat enggak berubah jam biologisnya…

Kuncinya adalah “ada yang membawa”… makanya pekerjaan-pekerjaan itu dikuasai oleh bangsa-bangsa tertentu… makanya dalam pandanganku, kerap terjadi “persaingan” antarbangsa dalam bekerja.. kalo sudah dengar bahwa di jenis pekerjaan X banyak orang bangsa A, maka kecil kemungkinan kita bisa masuk ke sana meskipun pekerjaan itu mudah dan dekat lokasinya dengan tempat kita tinggal…

sekali lagi, ini untuk pekerjaan casual, yang tidak membutuhkan keahlian tertentu.. apalagi sebagian pekerjaan itu kan tidak membutuhkan keahlian berbahasa inggris, yang penting kerjanya bener.. jadi pekerjaan-pekerjaan seperti itu banyak diminati…

hal ini diperkuat dengan hasil “wawancaraku” dengan seorang india, yang menjadi cleaner.. lebih tepatnya tukang sapu di pertokoan asia di sunnybank. aku tanya ke dia, udah berapa lama kerja di sana.. dia bilang baru beberapa minggu, dia menggantikan temannya yang pulang ke india. jadi dia tidak melamar pekerjaan.. bener-bener dia dikasi kerjaan oleh temannya.. seminggu 4 hari masuk, dan per jam AUD 15 dengan jam kerja pagi sampai sore… enak banget kan? kerja jam normal, cuma pegang sapu dan alat pembersih, jalan-jalan di sekitar mal itu.. kalo ada sampah dia ambil, kalo ada keliatan kotor dia lap… gitu aja selama 5 jam sehari…

beberapa hari lalu, aku datang ke pertokoan itu pagi-pagi, dan aku melihat seorang pria india sedang menjalankan mesin pengepel di depan toko-toko asia itu… akhirnya aku mengerti, mengapa mbak india tadi, menggantikan temannya… sebab itu tadi, pekerjaan sebagai cleaner di sana sudah dikuasai bangsa india.
tapi aku waktu itu tetep bilang ke dia, bahwa aku mau kerja lho kalo ada informasi pekerjaan cleaner yang kosong di sana… kataku, dia tersenyum saja. dia tanya, aku ngapain di sini, aku bilang aku kuliah di griffith.. dia tampak salut gitu.. tapi aku bilang, aku pengen kerja juga…

ada satu pertanyaan menarik yang selalu aku inget saat obrolan itu..
“are you from china?” tanyanya…haahhh?
“no.. I’m from Indonesia…” kataku
“i thought you from china…you looks like chinese…” katanya keukeuh
“no..no… i’m too dark to become chinese..” jawabku tertawa lebar… please dehhh mbak, segini itemnya kok dibilang mirip cina.. hehehe

July 22, 2009

Menemukan Mushala di Harbour Town

Filed under: sabadunya — by aan @ 10:32 am

HTAkhir pekan lalu kami berjalan-jalan ke Harbour Town, di Gold Coast. Harbour Town (HT) adalah kawasan factory outlet yang terkenal karena harga miring dari barang-barang yang ditawarkan di sana… Banyak orang Indonesia yang senang berbelanja di sana, terutama saat akan kembali ke tanah air. “Ya..beli oleh-oleh, barang bermerek tapi harganya miring,” ungkap seorang teman yang akan balik ke tanah air dalam waktu dekat.

Bagiku dan suamiku, itu adalah kunjungan pertama kali. Tapi buat airin, itu adalah kunjungan yang kesekian kali… Tapi hal yang baru buat dia, dan tentu saja buat kami berdua, adalah ternyata ada mushola di pusat perbelanjaan itu! “Subhanallah,” ujar suamiku saat aku sampaikan kepadanya bahwa kami menemukan mushala di dekat toliet, di salah satu sudut pertokoan HT.

Tentu saja kami girang, karena itu artinya kami tak perlu “bersusah payah” mencari tempat sepi dan jauh dari pandangan orang, untuk bisa shalat dhuhur. Aku pribadi, belum bisa shalat di tempat umum, dan kemungkinan dilihat oleh banyak mata, yang terheran-heran melihat apa yang kami lakukan. Aku belum siap… makanya, saat menemukan mushala itu.. senangnya hatiku…

Mushala ini tak terlalu luas. Ada satu keran untuk wudhu… sementara ruang shalatnya disekat, antara perempuan dan laki-laki. Masing-masing cukup untuk lima orang shalat berjamaah… di situ juga disediakan sajadah, mukena serta dua atau tiga Alquran. Di arah qiblat, ada tandanya pula… Ruangan ini bersih dan ber-AC. Satu-satunya masalah,  barangkali, adalah tempat wudhu yang cuma satu dan dipake bersama… Tapi itu bisa disiasati kok.. so, nggak terlalu masalah..prayer room

Semula kami tak tahu bahwa itu mushala… tapi di pintu masuk ada tulisan, “kunci bisa diminta di Tourism Lounge”. Ada tulisan berbahasa arab juga, yang aku tak tahu maknanya..tapi kalo liat tulisan berbahasa inggris itu, tampaknya itu adalah versi arab dari pemberitahuan mengenai kunci pintu tsb. Sementara toilet ada di ruang sebelahnya.. itu adalah toilet umum, untuk pengunjung mall Harbour Town.

Menurutku, “penemuan” kami tentang mushala ini bukanlah kebetulan… Tetapi atas izin Allah SWT. Soalnya, di berbagai lokasi di pertokoan itu, banyak ditemukan toilet, tapi mengapa, kami berdua (aku dan airin) waktu itu memilih untuk berwudhu di toilet yang itu.. yang bersebelahan dengan mushala…? tentulah itu bukan suatu kebetulan, tetapi Allah yang mengarahkan, dikarenakan keinginan kami untuk shalat.. alhamdulillah…

Insya Allah setelah ini aku mau mencari tau, apa latar belakang diadakannya mushala di pertokoan yang sesungguhnya penduduk yang mau shalat pun, hanya sedikit jumlahnya… menarik untuk mengetahuinya lebih jauh.. soalnya, ini hal baru bagiku..

Aku jadi berpikir, betapa Allah memudahkan setiap urusan kebaikan yang kita ingin lakukan, selama kita sungguh-sungguh berkeinginan untuk melaksanakannya… sungguh, Allah memudahkan urusan itu..

Hal itu terasa, saat kami kembali menuju stasiun Helensvale, setelah dari HT dan menengok sebentar ke Surfers Paradise yang terkenal itu. Ketika bus tiba di stasiun tempat kami akan menumpang kereta api kembali ke Brisbane, waktu magrib tiba. Sebelumnya airin mengajak untuk turun di HT dan shalat kembali di mushala yang ada di sana, tapi suamiku bilang shalat di jalan aja.. sementara pertimbanganku, apakah kantor Tourism Lounge itu masih buka karena sudah pukul 5 sore. jadi kami memutuskan untuk mencari tempat di stasiun.

Turun dari bis, kami menuju toilet… sekalian berwudhu. aku dan airin mencari-cari tempat untuk shalat.. tapi tak ditemukan. kami memutuskan untuk berjalan ke dalam stasiun, sembari menunggu kereta api yang baru akan tiba sekitar 15 menit kemudian…kami memang terlambat naek kereta sebelumnya dikarenakan masih di toilet…

setelah melihat ke sana ke mari, aku memutuskan mencari arah qiblat dengan kompasku yang sederhana.. (dulu sebelum berangkat ke Brisbane, aku minta tolong dibelikan bapakku di Bandung..harganya Rp 5 ribu aja.. tapi sangat bermanfaat, bisa kubawa ke mana-mana…).  ternyata, arah qiblatnya miring.. aku bilang ke airin, “kamu shalat di sini.. di dekat tiang.. biasanya tiang-tiang jarang disinggahi kaki orang, jadi relatif bersih,” kataku sembari menyusun koran bekas sebagai alas dia shalat. sementara aku memilih sudut tiang yang lain, yang berada di belakang tiang yang dipilih airin. ini pertama kalinya sejak aku berada di australia, aku shalat di tempat umum… aku agak deg-degan, sebab khawatir orang melihat kami dan berbuat sesuatu yang buruk pada kami.. apalagi beberapa hari lalu ada berita pemboman di Jakarta.. dan pemberitaan di australia mengenai hal itu, cukup kencang.. — yaaa, ada tiga warga australia yang menjadi korban kan di sana…–

Tapi aku ingatkan diriku untuk khusyu hanya berpikir tentang Allah.. tentang shalat yang aku lakukan… Bukankah aku sedang melaksanakan perintahNya? dan bukankah di manapun di bumi Allah ini bisa kita jadikan tempat shalat kita?

selesai shalat, aku melipat sajadah kecilku dan melanjutkannya dengan berdoa di kursi yang ada di stasiun.. airinpun aku liat buru2 melihat mukenanya.. membuang kertas korannya.. dan duduk manis di kursi. Beberapa menit kemudian,  peron yang tadi sepi, hanya ada satu calon penumpang… kini dipenuhi banyak orang.. mereka akan naik kereta yang akan tiba sekitar 7 menit ke depan.

Aku tak henti-hentinya bersyukur, ya Allah.. Engkau mudahkan urusan kami.. ketika kami berniat untuk melakukannya… Selama kami shalat, tak ada orang datang.. sehingga kami bisa shalat dengan lebih tenang (meskipun pastinya agak deg-degan juga, khawatir dipandang aneh.. belum terbiasa…)

jadi, tak ada alasan untuk tidak shalat kan? kalo pun terpaksa, shalatlah di dalam bus, atau kereta api… bertayamum.. tapi intinya, Allah memudahkan segala urusan kita, terutama jika kita ingin melaksanakan sebuah kebaikan.. wallahu alam…

Next Page »

Powered by WordPress.com