Hikmah Lebaran Kemarin

“gimana siy pemerintah..kok lebarannya rabu, padahal opor dan ketupat udah mateng…jadi aja diangetin bolak-balik, hancur deh”
celoteh itu meluncur dari mulut seorang ibu saat hari lebaran, usai shalat ied. Kalimat sejenis itu, terdengar banyak sekali olehku pas lebaran kemarin… terbaca juga di status fesbuk.
Hmmmm, jadi pemerintah yang salah ya?

Aku sendiri sebagai orang awam, tak punya pilihan selain mengikuti pengumuman resmi pemerintah kita, melalui kementrian agama senin malam, yang kemudian rapat sidang itsbat memutuskan bahwa lebaran idul fitri jatuh pada hari rabu, bukan hari selasa — seperti tertulis di kalender.
tampaknya, itulah pangkal masalahnya….lebaran yang diumumkan pemerintah tak sesuai dengan jadwal di kalender… Hari selasa sudah “dimerahkan’ di kalender, lalu ormas Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, mengumumkan bahwa lebaran jatuh pada hari selasa, sementara pemerintah mengatakan masih harus menunggu, sebab akan sidang pada senin malam.
Sebenarnya, pesan yang disampaikan sudah jelas… pemerintah akan bersidang pada senin malam guna menentukan apakah lebaran jatuh pada hari selasa atau hari rabu… Dan itu, terjadi setiap tahun selama bertahun-tahun… pemerintah bersidang, lalu diumumkan.
Persoalan kemudian muncul ketika kalender sudah berwarna merah untuk hari selasa… Memang selama ini, pengumuman pemerintah senantiasa sama (hampir 99 persen), sama dengan jadwal di kalender…
Karena itu, menurutku, bukan soal Muhammadiyah yang dianggap “tidak kompak” sebab sudah sejak lama Muhammadiyah dan pemerintah berbeda jadwal lebaran..karena kriteria penentuan lebaran yang dipakai berbeda…
Menurutku, pangkal masalahnya ada di kalender yang sudah merah, dan ternyata kata pemerintah, belum lebaran di tanggal merah itu!
Lalu, hal tersebut menjadi obrolan nasional…semua orang membahasnya, di tingkat masyarakat awam hingga para pemimpin di tingkat negara…seru pokoknya…
Yang menarik, pemerintah yang kemudian mendapat banyak tudingan…
Hal ini menurutku jadi lucu…lho kok pemerintah yang disalahkan semata-mata?
Bukankah setiap tahun, pemerintah selalu menggelar sidang itsbat untuk menentukan jatuhnya lebaran… tapi sebagian besar kita tak pernah peduli.. kita lebih peduli pada tanggalan/kalender kita…
padahal kita juga tahu bahwa penanggalan/penentuan waktu dalam Islam (tahun hijriyah) berbeda dengan tahun masehi….
aku tak mau masuk ke dalam polemik soal hisab dan rukyat karena itu bukan wilayahku, aku tak paham hal tersebut, aku awam… Tetapi dari sisi masyarakat biasa yang tak mempunyai pengetahuan mengenai hal tersebut, seharusnya kita menyerahkan kepada ahlinya… siapa? ya dalam hal ini pemerintah… sebab pemerintah punya banyak orang yang melakukan tugas tersebut sekaligus adalah tugas pemerintah untuk menginformasikan segala sesuatu yang berkenaan dengan kemaslahatan ummat….
Jadi, kalo begitu..kenapa pemerintah disalahkan? kenapa kita tidak introspeksi diri.. bahwa selama ini, kita menganggap sidang itsbat itu sebagai formalitas belaka… formalitas yang tak ada artinya…
padahal, itu sangat penting…

Hey, jangan dibilang aku sedang menyalahkan mereka yang mengeluh atau komplain dengan kondisi lebaran kemarin… aku hanya mengajak kita semua untuk berpikir dan introspeksi diri… jangan-jangan si opor yang hancur lebur itu, memang karena salah kita, yang tak peduli dengan pengumuman pemerintah…merasa yakin dan pasti bahwa 1 Syawal jatuh pada hari selasa, padahal belum ada pengumuman pemerintah… atau kita abai dengan informasi sebelum sidang itsbat tersebut… Coba kalo kita mencermati, sejak beberapa hari sebelumnya, diberitakan bahwa “kemungkinan hilaal belum akan tampak pada senin malam jadi lebaran kemungkinan jatuh pada hari rabu….”
jadi, siapa yang salah?

Baiklah, mungkin pemerintah salah dalam pembuatan kalender… tetapi sekali lagi, bukankah setiap tahun sidang itsbat itu ada? Dan kita abai….
Kalo demikian, jangan limpahkan seluruh kesalahan pada pemerintah…
Toh pemerintah dan ormas islam juga belajar dari kejadian “hiruk-pikuk”kemarin itu… Mereka semakin terdorong untuk melakukan penyamaan kriteria sehingga lebaran bisa ditentukan dengan kriteria yang sama oleh semua pihak, dan pada ujungnya akan membuat lebaran dilakukan bersama-sama oleh seluruh rakyat indonesia…tak ada kegaduhan atau kegalauan karena berbeda lebaran, yang terpaksa membuat kita harus berlindung di balik kata ‘toleransi’ — yang menurutku kurang tepat untuk diterapkan dalam situasi seperti ini…

Inilah saatnya bagi kita sebagai masyarakat awam untuk lebih peduli dengan hal-hal yang menyangkut kepentingan kita… sehingga jika terjadi sesuatu, kita tak lantas kecewa berat dan sibuk menyalahkan pihak lain…

aku sendiri, alhamdulillah, bapakku sejak dulu selalu disiplin menunggu keputusan sidang itsbat mengenai jatuhnya hari lebaran.. jadi untuk kasus kemarin, di rumah kami tak ada makanan yang terlalu matang karena berulang kali dihangatkan, tak ada cerita opor hancur karena bolak-balik dipanaskan…
sebab ibuku memutuskan untuk memasak, setelah mendengar pengumuman pemerintah dari sidang itsbat tersebut. Jadi, masaknya disiasati, yang mana yang bisa bertahan lebih lama.. yang mana yang musti dimasak setengah mateng dulu dan sebagainya…

Toh lebaran bukan soal makan semata, justru makanan adalah bunga-bunganya… Utamanya adalah pelaksaan shalat ied dan bermaaf-maafan usainya.

Yuk menjadi umat yang lebih peduli, lebih sabar dan mencari informasi yang terakurat…:)

Cepat Bacanya atau Paham Artinya?

Kemarin sore, ada SMS masuk dari seorang teman, soal membaca Alquran… Aku jadi terinspirasi untuk membuat postingan ini. Bagiku, membaca Alquran haruslah dengan artinya…harus paham apa yang kita baca.. bukan sekadar indah suaranya..bukan sekadar cepat khatam…
Apalagi di bulan Ramadhan seperti ini, banyak orang membaca Alquran demi mengejar khatam pada akhir bulan yang suci ini… itu bagus, tetapi akan lebih bagus, menurutku, jika kita paham artinya. Sebab Alquran sesungguhnya adalah pedoman hidup kita… jadi sebagai pedoman hidup, kita musti pahami artinya.. sebab jika kita tak paham artinya, bagaimana Alquran bisa menjadi pedoman hidup kita?
Adalah benar, membaca Alquran meskipun tak paham artinya, sudah mendapatkan pahala… Bahwa benar, membaca Alquran di bulan Ramadhan sangatlah dianjurkan..banyak contoh mengenai sahabat Nabi SAW dan orang-orang soleh yang mengkhatamkan Alquran selama Ramadhan…
Namun aku mempersepsikan bahwa mereka yang mengkhatamkan Alquran dalam sebulan, adalah mereka yang juga sekaligus paham isi Alquran.. jadi tak masalah untuk mengkhatamkan Quran sebulan atau malah seminggu…toh sudah paham artinya.
Bukankah yang namanya membaca adalah kita paham artinya? kalo hanya membaca tanpa paham artinya, itu adalah “mengubah bentuk, dari tulisan menjadi bunyi”…demikian kata beberapa guru ngajiku…
benar juga..
Bukankah jika kita membaca koran, atau membaca buku, kita bisa menceritakan isinya kepada orang lain, jika mereka bertanya? Nah, kalau membaca Quran, trus kita ditanya, apa bacaan kita.. paling banter kita akan bilang, ‘surat Al Kahfi’ atau ‘surat Albaqarah’ tetapi kita tidak mengatakan, kita baca tentang keharusan kita membelanjakan harta kita di jalan Allah, misalnya… sebab kita memang tak tahu, apa arti yang kita baca…
Barusan aku cek FB, dan melihat status seorang teman yang menulis “Sudah bukan saatnya, cepat-cepat mengkhatamkan Quran.. tapi pahami artinya”… kurang lebih seperti itu status dia..
aku setuju dengannya…
Sudah sejak beberapa tahun terakhir, aku memilih untuk membaca Quran yang ada terjemahannya. Dulu, aku baca Quran yang tanpa terjemahan..tetapi sejak mendapat pemahaman bahwa Quran adalah pedoman hidup, yang harus kita pahami artinya… aku pun mengubah kebiasaan membaca Quran dengan terjemahannya..
Biarlah sekali membaca hanya lima ayat, tetapi sembari membaca artinya dan merenungkannya… daripada sekali membaca bisa belasan atau puluhan ayat (seperti dulu), tapi nggak paham artinya…

Soal pedoman hidup ini, ada perumpamaan indah yang aku pernah dengar dari seorang guru ngajiku… bahwa Quran itu adalah manual book manusia. Ia seperti manual book dari sepeda motor. Saat kita membeli sepeda motor, ada manual book-nya yang harus dibaca agar sepeda motor itu bisa berfungsi dengan baik… Jika kemudian si motor ini ada masalah, maka kita lihat lagi manual book tersebut.. dikatakan di sana, barangkali oli nya perlu diganti atau businya rusak…
Manual book sepeda motor itu kan tidak dibacakan di depan motor kita saja, tetapi kita pahami artinya lalu kita kerjakan sesuai petunjuk manual book tersebut.
Begitu juga Alquran, ia akan menjadi solusi bagi persoalan hidup manusia, jika setiap masalah kita kembalikan ke Quran… Kita cari masalah tersebut di Quran dan kita praktekkan apa yang dikatakan Quran.. bukan sekadar dibaca-baca saja berulang kali tanpa kita pahami artinya…
Tak mudah mengubah tradisi yang sudah berlangsung sekian lama… mengajak orang untuk tak hanya mengejar khatam Quran semata…apalagi konon, tradisi ini sudah ada sejak zaman Belanda dulu..Aku lupa siapa yang bercerita tetapi konon, salah satu cara pemerintah Belanda melenakan umat Islam adalah dengan menyuruh (tentu saja dengan cara yang halus dan bersiasat) Umat Islam di masa itu untuk senantiasa membaca Quran tanpa artinya..sebab jika umat islam tahu isi dan memahami kandungan Quran yang dahsyat dan mempraktekkannya, bisa membahayakan pemerintah Belanda…
Soal benar tidaknya, aku tak tahu pasti…tetapi hal tersebut masuk akal saja..
Isi Quran itu sangat luar biasa… ia menjadi hiburan bagi yang bersedih, ia menjadi solusi bagi yang bermasalah dan ia menjadi pengingat bagi semua yang membacanya dengan tujuan mencari hikmah… ia juga menjadi kabar gembira bagi orang-orang mukmin..

Jadi, mari kita membaca Alquran dan pahami arti Quran yang kita baca…

Bertemu TKW di Pesawat

Hari-hari ini, di antara hingar-bingar berita politik dan terorisme di media massa, ada terselip berita mengenai pemulangan ribuan TKI dari Arab Saudi. Aku jadi teringat pengalaman beberapa minggu lalu, dalam perjalanan dari dan ke Singapura, bertemu beberapa orang tenaga kerja wanita (TKW) di dalam pesawat atau saat menunggu pesawat.

Soal bertemu dengan TKW ini, tidak mengherankan sebab jumlah TKW di Singapur, menurut data dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, hingga Desember 2010 adalah sekitar 19 ribu orang. Pertemuan pertama kali adalah ketika kami (aku dan keluargaku) sedang berjalan menuju pintu (gate) keberangkatan pesawat Tiger Airlines. Seseorang berlari memburuku dan menjajari langkahku dan menunjukkan selembar kertas padaku. “Bu, mau tanya.. ini pesawatnya mana ya?” dan ketika aku cek, ternyata kami punya penerbangan yang sama. Jadi aku katakan padanya, kita bisa sama-sama.

Nah, selama beberapa menit menunggu itu, dia bercerita bahwa dia dibangunkan pagi-pagi oleh majikannya untuk disuruh berangkat ke bandara. “kata majikan saya, tiket ini sampai ke Semarang,” ujarnya. Padahal, tiket pesawat itu hanya sampai Jakarta. Dan setahuku, Tiger irways nggak punya penerbangan Jakarta-Semarang. Ia juga bercerita bahwa gajinya akan ditransfer oleh majikannya, jadi saat itu dia tak membawa uang….hanya 100 dolar Singapur saja di dompetnya. Dia bilang bahwa dirinya tidak betah sehingga ingin pulang. Sudah selesai dua tahun kontraknya dan tidak ingin memperpanjang. Problemnya, bagaimana bisa uang gaji ditransfer sementara sang majikan tak pernah bertanya nomor rekening dia…

Saat menunggu itu pula, kami bertemu dengan dua TKW lainnya… Yang satu minta dipulangkan ke Indonesia karena sakit dan tidak diurus majikan. Namun dia sudah punya pengalaman bekerja sebelumnya sehingga sebelum pulang, dia sudah membereskan semua urusan administrasi. Dia terlihat santai dan berpengalaman. Meski begitu, dia bilang bahwa majikannya yang ini, tidak baik karena membiarkan dirinya sakit tanpa dibawa ke dokter. “Masa cuma dikasi balsem aja, nggak dibawa ke dokter?” cetus dia. Konon, sang majikan pun sempat mengancam dirinya untuk dilaporkan ke polisi saat dirinya minta pulang dan berhenti bekerja. “Saya salah apa? Kok mau dilaporkan ke polisi? Saya mencuri ma? Saya membunuh ma?” katanya… Perhatikan kata-kata dia, “ma”… adalah pengaruh bahasa mandarin. Semacam “kah” dalam bahasa Indonesia atau “mah” dan “tea” dalam bahasa Sunda.

Mbak TKW yang ketiga ini cantik dan trendy. Dia hanya liburan selama dua minggu. Majikannya baik, makanya dia betah bekerja, sudah lima tahun di majikan yang sama – Orang Indonesia yang menikah dengan Orang Singapur. Dia juga tampaknya cukup menguasai bahasa inggris dengan baik. Saat menegur bayiku, dia menggunakan bahasa inggris dengan logat yang cukup fasih.
Ketiganya akhirnya bersama saat keluar dari pesawat setibanya di bandara Soekarno-Hatta. TKW pertama yang merasa dirinya “gagal” bekerja, benar-benar tak tahu apa-apa. Bahkan dia tak mengisi lembaran putih dari Kantor Imigrasi, yang dibagikan oleh pramugari. Mungkin dia tak tahu, dan tak melihat ada perlunya… jadi pas akan melewati imigrasi, dia harus menemui petugas di lantai dua atau tiga, dan mengisinya dan baru bisa keluar melewati imigrasi.

Persoalan muncul ketika akan mengambil bagasi. Mbak TKW pertama ini panik dan terus bingung, bagaimana dia bisa sampai di Semarang dengan berbekal hanya 100 dolar singapur? Lalu mbak TKW yang cantik menawarkan untuk melapor ke petugas di bandara Soetta tersebut sehingga diurus oleh pemerintah, mengenai gaji dan sebagainya sekaligus kemungkinan sanksi bagi bekas majikannya itu. Namun si mbak ini tak mau…

Tak sengaja, suamiku bilang ke petugas yang kebetulan berjaga di dekat pintu keluar dari bandara, setelah mengambil bagasi, bahwa si mbak ini kasian, ditipu ama majikannya. Tapi ya ampun, ternyata itu menjadi “bencana” buat mbak-mbak TKW itu..sebab kemudian datang beberapa ‘petugas’ perempuan tak berseragam tapi pakai name tag, mendekati…dan menjelaskan bahwa pintu TKW berbeda dengan pintu penumpang lain. Mereka juga terlihat agak ngotot mengajak mbak-mbak TKW ini untuk melewati jalur khusus TKW itu…

Si mbak yang bermasalah itu nggak mau, dan pengen tetep pulang bareng aku. Kata salah satu petugas,”Boleh ikut bapak-ibu ini, tapi mereka harus menandatangi surat pernyataan…”. haduh, kok jadi ribet begini… Padahal, maksudnya kan nggak gitu..

Sementara itu, satu mbak yang lain, yang sudah berpengalaman kerja, yang sudah selesai kontraknya,…menunjukkan raut muka tak mau lewat jalur khusus TKW..sebab “di sana, kita harus bayar sampe 2 juta,’’ katanya. Wahhh, masa’ siy? Kok jadi ada pungutan gitu? Bukannya mereka ini bekerja di luar negeri karena mereka perlu dan mereka membantu keluarga mereka untuk memperbaiki taraf hidupnya.. dan mereka juga bawa devisa ke negeri ini, kok malah kena pungutan gitu?

Kami jadi agak menyesal keceplosan ngomong. Tapi sudah telanjur…dan kami tak bisa berbuat apa-apa. Sementara mbak TKW yang cantik dan trendy justru lebih bijak dan bilang, dia akan urus semuanya… Hmmm, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan mereka, tidak juga dipungut uang yang nggaks eharusnya…Duhh…duh..maafkan kami yaa, kami tak tahu bahwa berhubungan dengan petugas justru bikin ribet…bukannya membantu…

ASI untuk anakku

Dua hari lalu, aku membaca di Kompas dotcom mengenai perjuangan para ibu di Jakarta,khususnya, yang ingin memberikan ASI eksklusif buat bayi-bayinya…luar biasa banget.. Nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan upaya yang aku lakukan…

Di artikel-artikel itu aku membaca, seorang ibu yang musti duduk di bawah meja kerjanya, saat dia mau memompa ASI untuk anaknya.. Ibu yang lain melakukan pemompaan di toilet kantor, sehingga ada saat ketika orang mengantre di luar toilet, sebab si ibu ini sedang memompa ASI… Keduanya melakukan hal tersebut dikarenakan mereka bekerja dari pagi sampe sore tetapi ingin tetap menyusui bayinya dengan ASI. di sisi lain, kantor tempat mereka bekerja tak mempunyai ruangan untuk melakukan aktivitas pemompaan ASI itu.

Aku cukup beruntung, karena aku melahirkan bayiku di Brisbane.. aku mendapatkan lumayan pengetahuan mengenai menyusui dan aku mendapatkan lingkungan yang mendukung untuk melakukan hal tersebut. Ketika jalan-jalan ke mal, ada saja ruangan untuk menyusui…lumayan mudah ditemukan, dan tempatnya nyaman..
Sementara kalo kuliah, aku bisa mengatur jadwal untuk menyusui anakku, atau aku memompa ASi dulu.. toh aku ke kampus tak lama, hanya sekitar satu sampai tiga jam saja…itupun hanya seminggu sekali atau seminggu dua kali…

Kalo terpaksa, aku bisa membawa bayiku ke kampus, jadi tetap bisa menyusui dia.. karena di kampusku pun ada tempat untuk menyusui, setidaknya di ruangan kerja teman-temanku :)

Kalo soal pengetahuan bahwa ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi kita, sudah lama aku tahu.. tapi di Indonesia, belum banyak yang mempraktekkannya karena banyak hal. Mulai dari promosi yang begitu gencar mengenai “bagusnya susu formula” sehingga begitu melekat di kepala banyak ibu di Indonesia, hingga persoalan itu tadi, harus meninggalkan bayi untuk bekerja kembali…

Urusan kerja ini pun tak mudah, sebab sebagian perempuan bekerja karena kebutuhan rumah tangga, demi menyokong ekonomi keluarga.. makanya, persoalannya menjadi pelik..

Alhamdulillah sekarang sudah ada kesadaran untuk melakukan kembali menyusui anak dengan ASI… sebab dulu, ada masa di mana menyusui anak dengan ASi dianggap “kampungan” atau dinilai tak keren karena dibilang tak mampu membeli susu formula yang memang harganya tinggi…

Padahal, soal menyusui ini sudah jelas aturannya di Alquran, untuk kita umat Islam. Susui anakmu selama dua tahun… pastilah ada maksudnya kenapa Alquran menyuruh begitu, pastilah banyak manfaatnya.. dan terbukti benar… Masih di koran yang sama, ada wawancara dengan Dr Utami Roesli, yang menjelaskan manfaat ASI yang luar biasa…Jadi menyusui anak dengan ASI bukanlah kampungan, juga tidak susah kalo kita mengikhtiarkannya…

Persoalan ASI yang sedikit, pengalaman pribadiku siy, kalo kita tenang..insya Allah ASI-nya lancar.. aku juga merasakan, kalo aku stress trus mompa ASI..dapatnya cuma sedikit sekali.. Tapi kalo kita tenang, rileks..insya Allah dapatnya banyak. Lagipula sekarang sudah banyak informasi soal bagaimana agar ASI jadi banyak, bisa dari makanan juga yang dikonsumsi..dan seterusnya…

Mengenai tempat untuk melakukan pemompaan ASI (istilahnya ruang laktasi) kini masih menjadi kendala di berbagai tempat, belum disediakan oleh pihak perusahaan atau tempat kerja yang lain. Padahal tak perlu mewah atau bagaimana, yang penting ada ruangan tertutup dan aman, disediakan lemari es untuk menyimpannya…

Eh, soal lemari es ini, aku juga lihat di koran bahwa sekarang ada jasa kurir untuk mengantar jemput ASI..hebat yaa, jadi peluang bisnis juga.. Jadi para ibu yang sudah memompa ASI-nya bisa minta kurir untuk mengantarkan ASI tersebut ke rumah mereka.. jadi bayi mereka bisa tetep mengonsumsi ASI sebanyak yang dibutuhkan…

Soal ASI eksklusif selama 6 bulan inilah yang krusial, sebab si bayi tak boleh mengonsumsi apapun selain ASI. Makanya enam bulan ini sangat penting… AKu membayangkan jika saja ada aturan perusahaan/kantor yang mengizinkan agar cuti melahirkan bisa dilakukan selama 6 bulan atau 7 bulan. Tentunya akan lebih mendukung program ASI eksklusif ini… Toh, pada ujungnya, negara yang akan diuntungkan juga..dengan memiliki anak-anak yang cerdas, kemudian ibunya juga bekerja dengan lebih tenang… pokoknya bakalan banyak keuntungannya.

Kalo soal ketiadaan pegawai selama 6 bulan atau 7 bulan dianggap terlalu lama, kan bisa menggunakan karyawan magang.. ini juga bisa memberikan manfaat bagi yang magang.. sebab dia punya pengalaman kerja, yang di zaman susah nyari kerja gini, pastilah bermanfaat.. sementara pihak perusahaan tak perlu menggaji full karyawan magang ini.. memang ada effort, musti ngasih pelatihan..tapi kan sama saja… nggak ada yang nggak gratis..

Di negara lain, kalo nggak salah Iran, malah seorang ibu yang bekerja, saat dia melahirkan, diberi cuti selama satu tahun!

Aku bertanya-tanya, apakah sudah ada lembaga yang mengajukan upaya tersebut, berjuang menambah waktu cuti hamil/melahirkan bagi karyawati? Jika ya, alangkah menyenangkannya..semoga saja upaya ini segera membuahkan hasil. Jika belum, kenapa tak ada yang memulai ya? Aku sih terinsipirasi dengan informasi soal cuti melahirkan setahun itu tadi… di negara lain bisa, kenapa di Indonesia tak bisa?

Antara Brisbane dan Singapore

Banyak temanku yang bertanya, enak mana antara tinggal di Brisbane dengan di Singapura. Hmmm, susah membandingkannya, karena kedua kota ini berbeda. Tapi baiklah, aku coba…

Dari sisi transportasi publik, kedua kota ini sama-sama nyaman jika dibandingkan dengan Jakarta atau Bandung. Sama-sama menerapkan penggunaan kartu perjalanan (travelling card) untuk bis maupun kereta apinya. Di Brisbane, naik ferry juga pake kartu yang sama, namanya Go Card. Di Singapur, nama kartunya adalah EZ-link. Yang lebih menarik, kartu EZ-link ini juga berfungsi sebagai kartu debet, untuk melakukan fotokopi atau printing di berbagai mesin fotokopi dan printing. Misalnya, di perpustakaan kampusku, printer nya bisa menggunakan EZ-link, so sangat mudah dan nyaman. Selain dengan EZ-link, nge-print juga bisa pakai kartu cash card (nets card). Kayak kartu debet, kita beli kartunya di minimarket seven-eleven, diisi sejumlah uang, trus bisa dipake buat ng-print. Bisa juga dipakai sebagai kartu debet buat belanja, selama uangnya memadai.

Kalo busnya, lebih nyaman di Brisbane. Soalnya selama aku di sana, bis-nya mayoritas baru..meski ada beberapa bis lama. Tapis ecara umum lebih nyaman bis di Brisbane, sebab anakku yang kalo ke mana-mana pake kereta bayi (stroller), bisa ditempatkan dengan nyaman di dalam bis. Sementara di Singapur, stroller ini musti dilipat… Kalopun tak ingin dilipat, bisa aja..tapi agak kurang nyaman tempatnya maupun cara memasukkannya. Di Brisbane, kalo sopir tahu kita bawa stroller, mereka akan menurunkkan tempat naik bisnya, di pintu masuk, sehingga stroller tak perlu diangkat terlalu tinggi..juga ketika akan turun. Di Singapur, sopir ga begitu peduli apakah kita bawa anak atau tidak, apakah kita bawa stroller ato tidak..hehe. Pernah, hari abis ujan, trus kami turun dari bis, mau balik ke apartment. Eh si bus berhenti kurang pas…agak jauh dari trotoar sehingga stroller anakku agak susah diturunkan. Yang kaya gitu, hampir tak pernah terjadi di Brisbane…

Kalo kereta api, menang Singapur. Soalnya di sini pake MRT alias monorel train. Jadi lebih cepat dan lebih nyaman. Ke mana-mana disarankan pake MRT, kalo memang jalurnya ada… kalo naik bis, lebih lama jarak tempuhnya… Sementara di Brisbane, kereta apinya adalah kereta api biasa.. itupun, untuk yang berhenti di semua stasiun, keretanya udah jelek.. sebagian joknya sudah nggak empuk.. tapi kalo soal bersih, ya bersih.. Cuma itu, agak lama intervalnya dan tidak menjadi sarana transportasi yang utama di Brisbane. Yang populer ya bis kota… Sebaliknya di Singapur, MRT sangat populer. Asalkan kita tahu alamat yang akan kita tuju, kita bisa naik MRT dengan perpedoman pada selembar kertas panduan yang sangat mudah dan nyaman…

Udara di Brisbane dan di Singapur tak beda jauh, saat Brisbane musim panas. Soalnya Singapur panas.. yang tak terduga adalah cuaca di singapur yang sering banget berubah. Pagi panas, sebentar kemudian mendung dan hujan deras… atau seharian mendung.. makanya ke mana-mana mesti bawa payung buat jaga-jaga.

Harga makanan di Singapura lebih murah dibandingkan di Brisbane meskipun sama-sama pake dollar. Yaa… dolarnya juga beda siy.. satu dollar singapura satunya dollar Australia. Nilai tukarnya juga beda. Tapi sebagai gambaran, di singapura kalo kita makan di foodcenter (hawker center) yang menjadi tempat orang Singapur umumnya makan, kita menghabiskan 2.5 dolar sampai 4 dolar untuk satu menu makanan. Ditambah minum, tergantung jenis minumnya, 5 atau 6 dolar kita sudah kenyang.. sementara di Brisbane, kalo kita makan di luar, minimal satu menu makanan itu harganya 7-9 dolar… belum termasuk nminum. Di Singapur juga, kalo makan di restoran, akan lebih mahal jatuhnya. Hanya saja, di sini adalah pilihan lain, yaitu hawker center itu tadi…dan bukanya hampir 24 jam, dan mudah ditemukan di mana saja..

Kira-kira itulah perbedaan “signifikan” antara Brisbane dan Singapura.. :)

Anak Sempurna atau Bahagia?

kalimat itu adalah sebuah judul buku terjemahan terbitan Mizan. Beberapa tahun lalu, kalo tidak salah tahun 2004, meresensi buku tersebut… menurutku yang jarang membaca sebuah buku sampai selesai, buku ini sangat bagus untuk para orang tua. isinya mengenai berbagai tindakan orang tua yang baik disadari atau tidak mendorong anak-anak mereka untuk berperilaku sebagai anak unggulan…demi sebuah kesempurnaan. Buku ini secara sederhana sekaligus menarik, menggambarkan kisah atau contoh kisah perilaku orang tua yang sebagian “menghalalkan” segala cara demi kebahagiaan mereka, bukan kebahagiaan anak…

Buku ini secara mendasar bertanya kepada para orang tua, apakah yang diinginkan orang tua sesungguhnya? kebahagiaan anak atau kebahagiaan orangtua? kebahagiaan anak atau kesempurnaan anak? sebab menurut penulis buku ini (aku lupa namanya), kesempurnaan anak tidak bisa dengan serta merta berarti kebahagiaan anak.. jadi orang tua diajak berpikir sekaligus memilih, apakah ingin anaknya sempurna atau anaknya bahagia?
Hal ini dikarenakan seringkali orang tua memaksakan sesuatu kepada anak, dengan alasan, demi kebahagiaan anak… Bahwa juga, seolah-olah kalau anak mereka sempurna, berarti anak mereka bahagia…

Dorongan untuk membuat anak menjadi sempurna, menurut sang penulis, antara lain karena semakin ketatnya persaingan dewasa ini.. mau bekerja, harus bersaing…jadi kalo tidak unggul, mana bisa menang. alasan lainnya, keinginan untuk menjadi anak sempurna adalah karena obsesi orang tua yang belum tercapai. Dulu, orang tuanya ingin menjadi pemain piano yang hebat, tapi karena nggak kesampaian, maka disuruhlah anaknya les piano karena orang tua ingin punya anak yang piawai bermain piano, padahal sang anak tidak berminat.. Anaknya lebih minat pada, misalnya, bermain bola. atau anak disuruh ikut les pelajaran ini dan itu agar masuk ranking di kelas, padahal si anak kemampuan akademiknya biasa saja dan lebih menonjol bakat seninya.. tapi diabaikan sang orang tua..

Sejak membaca buku itu, paradigma ku berubah.. dan aku menerapkan ini kepada para keponakanku… sebab dulu, ketika membaca buku itu, aku belum punya anak, bahkan belum menikah. Kini, aku sudah punya anak.. aku akan berusaha menerapkan isi buku itu, mengambil yang baik-baik dari buku itu.. sebab aku semakin menyadari bahwa menjadi orang tua memang tak mudah, kadang ada obsesi atau ambisi pribadi yang belum tercapai, ingin kita estafetkan kepada anak kita..padahal, anak kita adalah pribadi yang berbeda…

Ngomong soal belum menikah dan belum punya anak, buku ini tak cuma mengesankan isinya..tetapi aku punya story menarik dengan buku ini. Gara-gara meresensi buku ini, aku diminta jadi pembicara dalam sebuah seminar mengenai anak! aku sudah menolak dengan mengatakan, aku hanya meresensi..kenapa nggak minta orang Mizan menjadi pembicara.. mereka lebih tahu mengapa menerjemahkan buku tersebut, lagipula aku belum menikah, dan belum punya anak..nggak pas kalo bicara soal anak di seminar yang hadirinnya adalah para orang tua…

Tapi si panitia keukeuh..mereka bilang sebab penulisnya adalah orang luar, maka tak mungkin mereka menghadirkan penulis dari luar negeri itu. pihak mizan juga sudah dihubungi ternyata tak bisa hadir..makanya mereka terus memintaku untuk hadir dan menjadi pembicara.. aku pun menyetujui.. tapi kemudian aku ingat, untuk bertanya siapa pembicara lainnya.. Ternyata, pembicara lainnya adalah Neno Warisan yang artis dan sekarang bergiat dengan Islam & anak-anak, serta pakar pendidikan yang dulu kepada Lab School Prof. Arif Rachman.. sementara moderatornya adalah presenter tv yang kala itu naik daun, Yasmin Mumtaz!!!! Lengkaplah sudah rasa deg-degan dan tegang yang aku rasakan..bayangkan, aku cuma wartawan yang nggak punya pengalaman dengan anak-anak… harus bicara seforum dengan para pakar anak-anak, terkenal pula.. haduhhhh duuhhhh…

Baiklah, saat itu aku memang kepala biro redaksi Jawa Barat.. anak buahku banyak di seluruh wilayah Jawa Barat, tapi kalo aku disuruh bicara soal koran atau kewartawanan, aku masih percaya diri..toh aku juga sering menjadi pembicara ato pengisi acara untuk beragam pelatihan jurnalistik, dengan peserta yang beragam… mulai mahasiswa, sampai para dosen atau peneliti.. tapi kan yang aku bicarakan hal-hal yang menjadi bagian dari pekerjaanku sehari-hari. Lha ini, bicara soal anak gara-gara meresensi buku…tapi aku dah terlanjur mengiyakan…aku berdoa aja..semoga aku nggak tampil memalukan.. dan aku makin nervous ketika duduk di meja seminar…hadirinnya 600 orang !!! Ketika itu seminarnya di Masjdi At-Tiin TMII Jakarta.

Alhamdulillah, aku bisa menyesuaikan diri…malah tak kusangka, ada juga hadirin yang bertanya padaku pada sesi tanya jawab…nggak cuma tanya ke Neno atau Pak Arif…Panitia juga bersikap baik padaku meskipun aku bukan siapa-siapa dibandingkan dengan tiga orang lainnya yang sudah terkenal se-Indonesia itu :D

Itu pengalaman yang sangat mengesankan untukku..juga yang mengesankan adalah honornya..hahaha..

Beragam komunitas Indonesia

Salah satu hikmah lebaran tahun ini adalah aku menyadari bahwa ternyata jumlah orang Indonesia di Brisbane ini betul-betul banyak… aku melihat sendiri, saat melakukan silaturahmi ke beberapa tempat orang Indonesia. Ada komunitas Bangka, ada komunitas Aceh, Padang, Makassar, Sunda dan pastinya Jawa…
Mereka kerap berkumpul atau membuat acara sesama komunitas mereka..yang menarik, saat berada di komunitas-komunitas itu, aku tak merasa seperti berada di luar negeri..bagaimana tidak? mereka bicara dengan bahasa daerahnya masing-masing..atau paling enggak, bicara bahasa Indonesia dengan logat daerah masing-masing.. belum lagi, suguhan makanan yang disajikan pun akan sesuai dengan daerah khas masing-masing..

Hmmm, rupanya..meskipun sudah belasan atau malah puluhan tahun tinggal di brisbane, mereka tetap mengenang dengan baik tanah asal leluhur mereka..dengan cara berkumpul dengan sesama perantau..

Seberapa banyak sih jumlah orang Indonesia di brisbane ini? konon kabarnya sekitar 4 ribu sampai 5 ribu orang di Queensland ini…dan mereka terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan visanya. ada yang bervisa student seperti aku, ada yang visa kerja, ada yang berstatus permanent resident (PR) maupun yang sudah menjadi penduduk (citizen). Perbedaan antara PR dan citizen hanya dua, yakni…PR masih ikutan pemilu Indonesia sementara citizen sudah tidak lagi sebab hak pilihnya sudah beralih ke australia.. dan yang kedua, PR tidak mendapatkan pensiun. sementara fasilitas lainnya sama, mulai dari kesejahteraan, potongan pajak, dan sebagainya..

Dulu, ketika masih kursus bahasa inggris, aku sudah kenal dengan istilah PR…sebab banyak yang mengambil kursus IELTS untuk mengajukan diri sebagai PR. Yang aku tak menyangka, ternyata di sini banyak sekali orang indonesia yang tadinya bervisa pekerja kemudian mendaftar menjadi PR… makanya banyak komunitas Indonesia di sini..

Sebagian dari anak-anak mereka (sebab para PR ini sudah belasan bahkan puluhan tahun berada di Brisbane) sudah menjadi citizen sementara para orang tuanya sebagian besar mempertahankan status mereka sebagai WNI. Alasannya beragam, ada yang berkata bahwa mereka ke australia ini hanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik demi anak-anak, sehingga kalo sudah tua kelak akan kembali ke Indonesia. ada juga yang mengatakan bahwa mereka masih cinta Indonesia, berada di australia hanya mencari nafkah… Oiya, bahkan ada yang berstatus PR sementara istri dan anaknya tinggal di Indonesia..

Kepadaku, sebagian kenalan di sini mengajak untuk mendaftar jadi PR atau ada yang bertanya, “nggak kepengen apply PR?” menurut mereka, dengan beasiswa yang aku terima dari Ausaid (yang nota bene adalah dari pemerintah Australia) maka peluangku untuk menjadi PR lebih besar dan lebih mudah.. aku menjawab dengan mengatakan sampai saat ini belum terpikirkan.. yang ada di benakku adalah kembali ke Indonesia dan mengabdikan ilmu di sana… cieeee, sok idealis yaa..

Tapi itulah yang aku rasakan sementara ini.. bahwa kehidupan di Brisbane menyenangkan, lebih teratur dan lebih tenang..benar adanya.. tapi aku belum berpikir lebih jauh dari itu.

Kembali ke soal PR tadi, saking banyaknya orang Indonesia dengan beragam etnis di sini.. aku merasakan bahwa aku justru bisa bicara bahasa Sunda, dengan banyak orang d sini..hehehe, bahkan aku belajar sedikit-sedikit bahasa Minang/Padang justru di Brisbane ini..:D soalnya sering mendengar suamiku ngobrol bahasa Minang dengan beberapa teman kami.. di Bandung, justru susah mencari orang yang bicara bahasa Minang..hehe..

Berlebaran di Brisbane

Alhamdulillah, ini adalah lebaran kedua kami (aku dan suami) yang kedua di Brisbane..bedanya tahun ini kami sudah punya anak..:) bayiku yang baru berumur tujuh minggu itupun ikutan ke lapangan untuk shalat ied..nggak mungkin ditinggal di rumah, sebab tak ada siapa-siapa di rumah..

Lebaran di negeri yang Islam adalah minoritas, memang tak seperti di tanah air. saat malam takbiran, suasana terasa senyap…tak ada gema takbir yang terdengar dari masjid-masjid… seorang teman berkirim sms bahwa malam itu, dia sedang mendengarkan takbiran dari youtube..yaaa, bagaimana lagi, nggak bisa mendengarkan langsung, ya dari internet-lah.. bisa sih, nonton tv indonesia, tapi musti pake parabola.. atau nonton via internet, cuma..mustii punya kapasitas yang gede, kalo enggak ya nggak kuat buat mendownload gambarnya..

memang, pagi harinya kami menuju lapangan untuk shalat ied. ada beberapa tempat yang menyelenggarakan shalat ied di brisbane ini. seperti tahun lalu, aku dan suamiku shalat ied di islamic school durack, bersama teman-teman kampus…
tapi tak seperti tahun lalu yang usai shalat kami menunggu ‘ransum’ makanan gratis di tempat shalat, lebaran kali ini kami melewatkan acara makan gratis itu… soalnya hari mendung dan sudah ada undangan resmi untuk makan-makan di rumah teman yang dekat dengan tempat shalat..jadi kami sudah membayangkan makan lontong, opor dan teman-temannya..ketimbang makan makanan ala timur tengah, nasi biriani plus gulai kambing..

nuansa lebaran terasa, saat kami melakukan silaturahmi ke komunitas muslim Indoensia yang menjadi “sesepuh” di brisbane ini. berkunjung ke beberapa rumah orang indonesia yang menjadi sesepuh, atau yang memang mengundang untuk “open house”…membuat suasana lebaran lebih terasa..mengurangi kerinduan akan nuansa lebaran di tanah air..

apalagi, menu makanan yang disajikan pun mirip dengan makanan khas lebaran di indonesia. ada lontong, opor, sayur lodeh, sambal goreng kentang-ati, kerupuk plus makanan pelengkap lainnya. sementara kuenya pun kue khas lebaran di indonesia, nastar, kastengel, putri salju hingga kacang goreng… yang tidak ada adalah ketupat :) yaaa…gimana mau bikin ketupat, wong janurnya tidak ada..hehehe
tapi lontong itu cukuplah..alhamdulillah..

lebaran yang jatuh pada hari jumat ini membuat acara silaturahmi keliling ini pun menjadi lebih panjang waktunya..bisa dilakukan jumat, sabtu hingga hari minggu…jadi kian terasa nuansanya. sementara tahun lalu, lebaran jatuh pada hari minggu, jadi waktu untuk silaturahmi hanya sehari saja..sebab di sini tak ada libur khusus lebaran, maklum minoritas… selain itu, khusus bagi kami berdua (aku dan suami), lebaran tahun lalu belum terlalu banyak kenal orang sehingga tak banyak pula yang mengundang…ada yang mengundang tapi karena hari libur, kendaraan umum agak terbatas sehingga kami tak bisa menjangkau semua daerah.. untuk diketahui saja, kendaraan umum di sini, kalo pas liburan atau weekend jumlahnya lebih terbatas dibandingkan weekdays..
nah tahun ini, alhamdulillah, ada seorang teman yang meminjamkan mobilnya kepada kami sehingga acara keliling untuk silaturahmi menjadi lebih mudah…

dan acara halal bihalal masih berlangsung sampai dua pekan ke depan..alhamdulillah..

Indonesian Day di Griffith Uni

Kemeriahan 17-an agustus datang lebih awal…bukan di belahan bumi Indonesia, tetapi di negara tetangga..tepatnya di kampus Nathan Griffith Uni, Brisbane. Tanggal 5 agustus lalu, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di kampus tersebut menggelar acara “Indonesian Day” yang isinya adalah kegiatan peringatan HUT RI…

Digelar beberapa lomba ala kampung, seperti makan kerupuk, balap karung, memasukkan pensil ke dalam botol dan balap bakiak. Ada juga pagelaran musik angklung, tari-tarian (saman, tari piring, tari merak poco-poco dan sajojo) dan kuis mengenai “How Indonesia Are You?” pertanyaannya seputar pengetahuan umum tentang Indonesia.. bagi yang berhasil menjawab kelima soal dengan benar disediakan hadiah berupa souvenir khas Indonesia..bagi yang tak bisa menjawab dengan benar semua soal itu, tetap diberikan souvenir secara cuma-cuma…para peserta berbagai lomba itu juga mendapatkan souvenir sebagai ucapan terima kasih atas partisipasi mereka dalam kegiatan Indonesian Day tersebut.

Oiya, ada juga jualan sate ayam plus nasi, minuman dan es campur..harganya tak mahal karena penjualan ini dimaksudkan untuk fundraising bagi klub mahasiswa Indonesia.. lumayan, 1.200 tusuk sate yang disiapkan ludes sebelum acara berakhir.. bahkan ada pembeli yang mengaku suka dengan sate itu sehingga dua kali beli :) ada yang ingin take away (dibawa pulang) tapi tak kebagian…

sementara penampilan angklung dan tari-tarian yang dimunculkan juga mengundang decak kagum para hadirin…mereka menikmati penampilan tersebut. acara digelar sejak pukul 10.30 pagi sampai sekitar pukul 3 sore. Panitia berpakaian batik dengan sebuah tanda nama di dada mereka, serta ada pita merah putih di papan nama tersebut. mereka hilir mudik ke sana ke mari mengurus ini dan itu…tampak sibuk, tapi bersemangat…

Panitia ini adalah mahasiswa indonesia dari berbagai suku, ras dan agama dibantu para permanent resident (PR) dari Indonesia yang concern membantu pelaksanaan acara. salah satu bukti dukungan nyata para PR adalah dijualnya sate ayam… soalnya, merekalah yang menyiapkan, mulai dari belanja ayam, menusuki sate hingga menjualnya di hari acara..

acara yang digelar di Undercroft, dekat perpustakaan kampus Nathan ini, lumayan banyak pengunjungnya.. kalo dilihat dari pembeli sate, sekitar 500 orang diperkirakan yang hadir… kehadiran para mahasiswa internasional dari berbagai bangsa memang menjadi salah satu target acara.. makanya, spot di undercroft itu pun ditata demi menarik perhatian orang yang lewat.. ada bendera merah-putih kecil yang dipasang pada tali yang kemudian dibentangkan di seputar arena, ada peta Indonesia yang dipasang di dekat tangga turun, ada tulisan INDONESIAN DAY serta tentu saja berbagai kegiatan yang dilakukan itu diarahkan untuk menarik pengunjung..mahasiswa di Griffith secara umum…

Ngapain sih mengadakan acara seperti itu di luar negeri? mungkin ada pertanyaan seperti itu.. tetapi semangat teman-teman panitia adalah ingin memperkenalkan indonesia kepada khalayak ramai… selama ini, indonesia yang bertetangga dengan australia.. kurang dikenal dengan baik oleh masyarakat australia. mereka lebih kenal orang india, cina bahkan malaysia ketimbang indonesia..padahal secara lokasi, indonesia sangat dekat dengan australia..

Selain itu, sebagian panitia juga merasakan hal yang sama bahwa, ketika berada di luar negeri, nasionalisme itu menggelora di dada..ingin memperkenalkan indonesia kepada lebih banyak orang, sebab kami tahu bahwa banyak hal dari indonesia yang bagus yang patut orang lain ketahui…

Kesempatan itu datang ketika beberapa bulan lalu, ada pengumuman bahwa internasional office dan campus life di Griffith Uni (GU) akan memberikan grant untuk pertama kalinya kepada klub-klub di kampus… jumlahnya 2.500 dolar AUD, lumayan kan?

Maka, mahasiswa Indoensia yang tergabung dalam Indonesian Student Association of Griffith Uni (ISAGU) pun tergugah untuk ikut meramaikan kompetisi mendapatkan grant tersebut. proposal itu dibuat, dan ternyata…ISAGU-lah yang menang…

Sejak itu persiapan untuk acara tgl 5 agustus pun dilakukan… pesan souvenir dari indonesia kepada teman mahasiswa yang kebetulan sedang di tanah air, bikin logo organisasi (maklum ISAGU sempat vakum…dan kini mulai direvitalisasi), melakukan beberapa kali rapat, merancang poster dan sebagainya.. semua dilakukan di sela kesibukan kuliah, liburan bahkan sebagian mahasiswa juga harus mengurus keluarganya.. tapi semua bersemangat… ingin memperkenalkan Indonesia di khalayak internasional… sebab kami tak ingin hanya dikenal sebagai “gudang teroris” atau “pengirim TKI” atau bahkan tak diperhitungkan sama sekali…

Acara berjalan sukses, teman-teman panitia bahagia dan lega.. pihak kampus yang menjadi sponsor pun ikut senang…

Semoga saja, sedikit demi sedikit, citra indonesia di mata internasional bisa kian membaik… ini hanya salah satu upaya kecil, langkah sederhana yang dilakukan oleh segelintir mahasiswa Indonesia yang cinta tanah air..dan berupaya mewujudkan cinta itu dengan cara yang indah…

photos : thanks to ISAGU

Melahirkan di Brisbane (3)

Salah satu yang dianjurkan kepada para ibu hamil adalah kelak jika bayinya lahir, sebaiknya disusui dengan air susu ibu (ASI), bukan susu formula. tetapi, upaya untuk mengajak para ibu hamil melakukan hal tersebut dilakukan dengan sebuah pertanyaan, “apakah kamu ada rencana untuk memberikan ASI untuk bayimu?” jika ya, maka si dokter/bidan akan mendukung dengan pertanyaan lanjutan, apakah kita sudah tahu apa dan bagaimana menyusui bayi…. tetapi jika jawabannya tidak, maka mereka akan memberikan penjelasan apa manfaat menyusui dan bagaimana cara melakukannya…

soal menyusui dengan ASI, aku melihat benar-benar upaya yang dikampanyekan secara menyeluruh oleh seluruh pihak, baik dokter, bidan maupun rumah sakit. ketika aku melahirkan, di ruang rawat inap sudah disiapkan beberapa booklet yang berisi informasi mengenai hal-hal yang perlu diketahui oleh para ibu baru, salah satunya, satu booklet khusus mengenai “breastfeeding” alias menyusui dengan ASI. Buku itu berisi informasi cukup lengkap, mulai dari apa dan bagaimana menyusui, pengalaman para ibu yang menyusui hingga informasi mengenai asosiasi maupun lembaga yang bisa dihubungi untuk bertanya jika ada persoalan seputar menyusui. sebab, “meskipun menyusui itu natural, tetapi bukan berarti selalu mudah…”.

makanya, ketika bayiku lahir…setelah dipotong tali pusarnya, tanpa dibersihkan dulu, si bayi langsung diberikan padaku untuk mendapatkan sentuhan atau kontak langsung kulit..antara ibu dan bayi, selanjutnya si bayi akan disusui… “memandikan dan membersihkan bayi, bisa menunggu…tetapi kontak antara ibu dan bayi saat pertama kali jauh lebih penting” demikian bunyi informasi yang aku baca di booklet tersebut. dan benar, bayiku berada bersamaku, sementara para bidan sibuk menjahit bagian bawahku yang terbuka karena melahirkan, aku pun menyusui bayiku sekitar 45 menit.. alhamdulillah, ASI nya lancar dan bayiku begitu pintar, langsung bisa menyedot ASI..

demi pertimbangan urusan ASI pula, maka si bayi pun diletakkan di satu ruangan dengan ibunya…tidak ada ruangan khusus bayi, seperti kebanyakan rumah sakit bersalin di indonesia. di sini, bayi diletakkan dalam sebuah boks khusus, di samping tempat tidur ibunya. jadi tetap tidur terpisah, tapi si ibu bisa dengan mudah menjangkau bayinya, ketika si bayi membutuhkan ASI.

perhatian terhadap urusan ASI ini, tak berhenti hanya sampai saat melahirkan dan rawat inap di RS. salah satu layanan yang diberikan setelah aku pulang ke rumah adalah, kunjungan bidan ke rumah. ini diberikan secara gratis oleh pihak RS (meskipun aku dengar, ada RS lain di brisbane ini yang mengenakan tarif untuk layanan ini), apalagi daerah tempat tinggalku termasuk dalam wilayah layanan mereka. jadi begitu aku pulang hari selasa dari rumah sakit, keesokan harinya, hari rabu siang, seorang bidan datang berkunjung ke rumahku. dia membawa catatan kesehatanku, dan juga membawa timbangan bayi. dia mengecek tempat tinggalku…melihat apakah cukup udara dan sinar matahari untuk bayiku, sebab di awal kelahiran bayiku agak kuning… dia juga mengecek kondisiku secara fisik mengingat aku mengalami anemia setelah melahirkan… dia menanyakan berapa kali bayiku menyusui, berapa lama setiap kali menyusui, berapa sering bayiku pup maupun pipis… dia menyarankan aku untuk mencatat kegiatan menyusui, pup dan pipis ini… yaaa, untuk evaluasi tahap awal saja…

selain itu, dia juga menimbang bayiku.. apakah dia naik berat badannya atau tidak, sejak pulang dari RS. Dia juga memberikan beberapa nasihat mengenai cara menyusui dan sebagainya..termasuk aku harus bertemu dengan dokterku dalam waktu 5-10 hari setelah melahirkan. kunjungan itu hanya sekitar 15 menit saja. dan dia bilang, akan ada kunjungan berikutnya hari jumat. benar, hari jumat datang lagi bidan tapi beda orang…si bidan ini mengecek hal yang sama, dan melihat banyak kemajuan dariku sehingga dia bilang bahwa pihaknya tak perlu berkunjung lagi, sebab aku sudah tampak sehat.

perhatian soal kesehatanku dan bayiku juga diberikan oleh health community terdekat. kemarin aku mendapat telpon dari health community itu… dia langsung bertanya apakah aku akan berkunjung ke sana, atau cukup puas bertemu dengan dokterku saja. dia juga bertanya, bagaimana proses menyusuiku, apakah lancar? apakah ada masalah yang ingin ditanyakan….

Jadi perhatian soal menyusui bayi ini benar-benar serius.. semua pihak mengingatkan dan memberikan bantuan jika diperlukan. ketika aku berkunjung ke dokter juga, si dokter menanyakan hal yang sama.. mengingatkan soal pentingnya menyusui dan jangan sekali-sekali tergoda untuk memberikan susu formula. “jangan khawatir kamu akan kekurangan ASI, selama kamu menyusui, maka tubuhmu akan terus memproduksi susu..kalo kamu beri bayimu formula, maka itu seperti isyarat kepada tubuhmu sendiri bahwa ASI tak perlu diproduksi lagi,” ujar dokterku ini.

soal pentingnya menyusui yang dikampanyekan secara simultan dan terintegrasi di Brisbane ini, aku tak heran..soalnya, menurut dokterku, di masa lalu, menyusui bukanlah hal yang lazim di sini…para orang tua zaman dulu lebih memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya.. makanya, kampanye mengenai menyusui ASI ini sekarang demikian gencar, demi menangkis berbagai mitos maupun kebiasaan yang dulu lazim dilakukan.

selain untuk kepentingan si bayi, menyusui ASI juga banyak manfaatnya bagi kesehatan ibu. karena itu tak heran persoalan ini begitu mendapatkan perhatian yang serius di sini..dan mendapat dukungan yang tak main-main..berbagai bantuan disiapkan, jika diperlukan. jadi inget pesan bidan pertama yang berkunjuung ke rumah,”tugasmu sekarang hanya makan, menyusui dan istirahat” katanya padaku… dan dia juga menekankan hal tersebut kepada suamiku..

alhamdulillah, suamiku sangat baik dan pengertian..semua tugas rumah tangga dia kerjakan, bahkan sementara ini dia berhenti bekerja demi membantuku…nggak kebayang kalo musti ngerjain semuanya sendirian.. wong sementara ini aku masih belum boleh angkat yang berat-berat, tak boleh membungkuk-bungkuk.. dan juga musti memulihkan kondisi tubuh, sementara otak musti disiapkan juga untuk mengerjakan tugas di semester ini…
insya Allah semua berjalan baik, yang penting kan selalu diikhtiarkan..dan juga berdoa senantiasa…