“gimana siy pemerintah..kok lebarannya rabu, padahal opor dan ketupat udah mateng…jadi aja diangetin bolak-balik, hancur deh”
celoteh itu meluncur dari mulut seorang ibu saat hari lebaran, usai shalat ied. Kalimat sejenis itu, terdengar banyak sekali olehku pas lebaran kemarin… terbaca juga di status fesbuk.
Hmmmm, jadi pemerintah yang salah ya?
Aku sendiri sebagai orang awam, tak punya pilihan selain mengikuti pengumuman resmi pemerintah kita, melalui kementrian agama senin malam, yang kemudian rapat sidang itsbat memutuskan bahwa lebaran idul fitri jatuh pada hari rabu, bukan hari selasa — seperti tertulis di kalender.
tampaknya, itulah pangkal masalahnya….lebaran yang diumumkan pemerintah tak sesuai dengan jadwal di kalender… Hari selasa sudah “dimerahkan’ di kalender, lalu ormas Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, mengumumkan bahwa lebaran jatuh pada hari selasa, sementara pemerintah mengatakan masih harus menunggu, sebab akan sidang pada senin malam.
Sebenarnya, pesan yang disampaikan sudah jelas… pemerintah akan bersidang pada senin malam guna menentukan apakah lebaran jatuh pada hari selasa atau hari rabu… Dan itu, terjadi setiap tahun selama bertahun-tahun… pemerintah bersidang, lalu diumumkan.
Persoalan kemudian muncul ketika kalender sudah berwarna merah untuk hari selasa… Memang selama ini, pengumuman pemerintah senantiasa sama (hampir 99 persen), sama dengan jadwal di kalender…
Karena itu, menurutku, bukan soal Muhammadiyah yang dianggap “tidak kompak” sebab sudah sejak lama Muhammadiyah dan pemerintah berbeda jadwal lebaran..karena kriteria penentuan lebaran yang dipakai berbeda…
Menurutku, pangkal masalahnya ada di kalender yang sudah merah, dan ternyata kata pemerintah, belum lebaran di tanggal merah itu!
Lalu, hal tersebut menjadi obrolan nasional…semua orang membahasnya, di tingkat masyarakat awam hingga para pemimpin di tingkat negara…seru pokoknya…
Yang menarik, pemerintah yang kemudian mendapat banyak tudingan…
Hal ini menurutku jadi lucu…lho kok pemerintah yang disalahkan semata-mata?
Bukankah setiap tahun, pemerintah selalu menggelar sidang itsbat untuk menentukan jatuhnya lebaran… tapi sebagian besar kita tak pernah peduli.. kita lebih peduli pada tanggalan/kalender kita…
padahal kita juga tahu bahwa penanggalan/penentuan waktu dalam Islam (tahun hijriyah) berbeda dengan tahun masehi….
aku tak mau masuk ke dalam polemik soal hisab dan rukyat karena itu bukan wilayahku, aku tak paham hal tersebut, aku awam… Tetapi dari sisi masyarakat biasa yang tak mempunyai pengetahuan mengenai hal tersebut, seharusnya kita menyerahkan kepada ahlinya… siapa? ya dalam hal ini pemerintah… sebab pemerintah punya banyak orang yang melakukan tugas tersebut sekaligus adalah tugas pemerintah untuk menginformasikan segala sesuatu yang berkenaan dengan kemaslahatan ummat….
Jadi, kalo begitu..kenapa pemerintah disalahkan? kenapa kita tidak introspeksi diri.. bahwa selama ini, kita menganggap sidang itsbat itu sebagai formalitas belaka… formalitas yang tak ada artinya…
padahal, itu sangat penting…
Hey, jangan dibilang aku sedang menyalahkan mereka yang mengeluh atau komplain dengan kondisi lebaran kemarin… aku hanya mengajak kita semua untuk berpikir dan introspeksi diri… jangan-jangan si opor yang hancur lebur itu, memang karena salah kita, yang tak peduli dengan pengumuman pemerintah…merasa yakin dan pasti bahwa 1 Syawal jatuh pada hari selasa, padahal belum ada pengumuman pemerintah… atau kita abai dengan informasi sebelum sidang itsbat tersebut… Coba kalo kita mencermati, sejak beberapa hari sebelumnya, diberitakan bahwa “kemungkinan hilaal belum akan tampak pada senin malam jadi lebaran kemungkinan jatuh pada hari rabu….”
jadi, siapa yang salah?
Baiklah, mungkin pemerintah salah dalam pembuatan kalender… tetapi sekali lagi, bukankah setiap tahun sidang itsbat itu ada? Dan kita abai….
Kalo demikian, jangan limpahkan seluruh kesalahan pada pemerintah…
Toh pemerintah dan ormas islam juga belajar dari kejadian “hiruk-pikuk”kemarin itu… Mereka semakin terdorong untuk melakukan penyamaan kriteria sehingga lebaran bisa ditentukan dengan kriteria yang sama oleh semua pihak, dan pada ujungnya akan membuat lebaran dilakukan bersama-sama oleh seluruh rakyat indonesia…tak ada kegaduhan atau kegalauan karena berbeda lebaran, yang terpaksa membuat kita harus berlindung di balik kata ‘toleransi’ — yang menurutku kurang tepat untuk diterapkan dalam situasi seperti ini…
Inilah saatnya bagi kita sebagai masyarakat awam untuk lebih peduli dengan hal-hal yang menyangkut kepentingan kita… sehingga jika terjadi sesuatu, kita tak lantas kecewa berat dan sibuk menyalahkan pihak lain…
aku sendiri, alhamdulillah, bapakku sejak dulu selalu disiplin menunggu keputusan sidang itsbat mengenai jatuhnya hari lebaran.. jadi untuk kasus kemarin, di rumah kami tak ada makanan yang terlalu matang karena berulang kali dihangatkan, tak ada cerita opor hancur karena bolak-balik dipanaskan…
sebab ibuku memutuskan untuk memasak, setelah mendengar pengumuman pemerintah dari sidang itsbat tersebut. Jadi, masaknya disiasati, yang mana yang bisa bertahan lebih lama.. yang mana yang musti dimasak setengah mateng dulu dan sebagainya…
Toh lebaran bukan soal makan semata, justru makanan adalah bunga-bunganya… Utamanya adalah pelaksaan shalat ied dan bermaaf-maafan usainya. 
Yuk menjadi umat yang lebih peduli, lebih sabar dan mencari informasi yang terakurat…:)











