Sabadunya’s Weblog

December 1, 2009

Sulitnya menata hati

Filed under: sabadunya — by aan @ 11:11 am

siapakah orang yang paling beruntung? sulit sekali menjawab pertanyaan itu.. sebab menurut agama, banyak sekali kategori orang yang beruntung itu… yang artinya, ada banyak jalan dan cara untuk menjadi orang yang beruntung… tentu saja, bukan beruntung dalam pemahaman bermateri banyak alias kaya.. atau mendapatkan lotre maupun warisan mendadak…
yang aku bicarakan di sini adalah, orang yang beruntung dalam kacamata agama kita…
bagiku, yang paling mengena untuk menjadi orang yang beruntung adalah dengan menjadi orang yang baik, yang berusaha senantiasa membantu orang lain yang membutuhkan maupun yang belum membutuhkan pertolongan kita.. yang mengulurkan tangan dengan tulus dan ikhlas tanpa pamrih kepada manusia, sebab yang membalas dengan balasan terindah adalah Allah SWT…
Tampaknya mudah berbuat baik kepada orang, bahkan memberikan senyuman kepada orang lain pun bernilai ibadah… Tapi kenyataannya ternyata yang seringan itupun, tak mudah lho…
aku merasakannya…seringkali mengalami ujian yang mendalam pada urusan senyum ini…
ketika bertemu seseorang yang sudah membuat kita sebel, atau selalu tak ramah pada kita, apakah kita akan tetap tersenyum padanya? atau memilih untuk membalasnya dengan tindakan yang sama?
Senyum yang tulus itu, muncul ketika hati kita juga ikhlas…. dan itu sangat sulit…
sungguh sulit menata hati ini agar bisa menampilkan senyum yang muncul dari hati yang bersih…
Itu baru urusan senyum…. belum lagi urusan yang lebih ‘berat’ seperti membantu orang lain dengan materi atau tenaga….
betapa hati kita harus seluas samudera untuk menjadi orang yang beruntung di mata Allah SWT…
aku memilih jalan terjal ini, sebab aku juga menyadari bahwa shalatku masih jauh dari sempurna, puasaku, dan ibdaha-ibadah ritualku yang lain masih ala kadarnya… maka aku ingin menjadi orang yang berguna baik orang lain, agar menjadi beruntung di mata Allah.. agar mendapat kasih sayangNya….
bukankah jika kita memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusan kita?

Tapi, sekali lagi, ini bukan perkara yang mudah… bahkan sangat sulit..
aku berkali-kali jatuh dan terjerembab dalam ikhtiar ini.. duhhhh, aku ngeri menjadi orang yang merugi… aku mengira aku sudah berbuat kebajikan tetapi sebenarnya aku sedang menjadi orang yang merugi, nauzubillahi min dzalik…
kepada suamiku, kadang aku bilang, kok melelahkan ya semua ini… tapi di hari lain, ketika aku merasa sedikit lebih kuat, aku bilang juga kepada kekasihku itu, “kita berbuat baik, bukan karena ingin orang lain membalas kebaikan kita, tetapi karena Allah menyuruh kita berbuat baik…”
Indah bukan, kata-kata itu?
Tetapi mana ada kehidupan tanpa ujian? Bukankah Allah sudah berfirman bahwa manusia di dunia adalah untuk diuji.. maka pilihan untuk menjadi salah satu orang yang beruntung itu pun, dipenuhi dengan ujian.. yang kadang-kadang membuat kita lupa..
maka kita memang harus mengukur kemampuan kita, keikhlasan kita…. jangan sampai berlebihan… maka kita pun harus senantiasa meluangkan waktu untuk merenung.. bertafakur, mengevaluasi tindakan-tindakan kita.. sehingga kita bisa segera meluruskan langkah, saat arah melenceng…
ya Allah, bantulah aku.. amin..

Idul Adha tanpa Potong Hewan Qurban

Filed under: sabadunya — by aan @ 10:53 am

Ini sebuah pengalaman baru yang lain. Idul Adha yang jatuh pada hari Jumat yang lalu, aku rayakan tanpa ada kegiatan pemotongan hewan qurban… Rasanya aneh, dan wagu..hehehe
hal kedua yang juga terasa aneh adalah, perbedaan pendapat mengenai jatuhnya hari Idul Adha di sini…
Kalo di Indonesia, umumnya perbedaan pendapat terjadi saat menentukan 1 Syawal… tetapi di Brisbane ini, hari Idul Adha terbelah menjadi dua… ada yang merayakan hari Jumat dan ada yang merayakannya hari Sabtu. Bersama banyak students di Brisbane, aku memilih untuk berhari raya pada Jumat… pertimbangan praktisnya, kendaraan umum lebih memadai saat weekdays.. :)
yang terasa aneh, jumlah yang merayakan idul adha hari Jumat hampir sama banyaknya dengan yang merayakan idul adha sabtu… Jadi tidak seperti di Indonesia, yang mayoritas merayakannya hari Jumat dan sebagian kecil hari sabtu…
Kalo di sini, kemarin itu, sepertinya muslim terbelah menjadi dua bagian yang hampir sama besarnya….

Lalu, balik lagi ke persoalan idul adha tanpa hewan qurban… Sejak kecil, aku terbiasa.. bahwa idul adha itu sama juga dengan pemotongan hewan qurban… bisa hewan qurban siapa saja.. Yang tidak berqurban, tetap bisa menyaksikan kegiatan pemotongan hewan qurban ini.. di masjid ato di rumah tetangga sebelah… Intinya, nuansa Idul Adha adalah hewan qurban…
Di sini, aku tak melihatnya sama sekali…
bahkan, seusai shalat idul Adha, yang terjadi berikutnya adalah… dibukanya permainan anak-anak lazimnya pasar malam, ada komedi putar, ada halilintar bahkan ada kuda poni yang siap ditunggangi anak-anak….di sudut yang lain, tenda-tenda penjual makanan bersiap melayani pembeli…
Uniknya lagi, arena permainan anak-anak berbayar ini (tidak gratis), didirikan di arah qiblat.. jadi para jamaah shalat ied, menghadap qiblat yang juga sekaligus menghadap arena permainan tersebut!
aku merasa aneh melihat semua itu.. tapi ya, mungkin begitu tradisinya…:)
nah kemudian salah seorang temanku dari Indonesia, bertemu dengan temannya yang orang Arab, ternyata di Arab, kegiatan seperti ini merupakan hal yang lazim. Yakni, usai shalat ied adha, ada permainan untuk anak-anak dan bazaar makanan… hhhmmm, rupanya ini budaya Arab…
nggak heran juga, sebab mungkin di sana (Arab) tak pernah ada kegiatan pemotongan hewan qurban… karena hewan-hewan qurban dari negeri-negeri kaya minyak itu dikirim ke negara lain, yang penduduk miskinnya banyak…
sementara untuk qurban para orang Indonesia, ya sama… kita bisa mengumpulkan dana qurban itu ke lembaga Islam yang ada di Brisbane yang kemudian akan disalurkan ke Indonesia…

Ada yang terasa hilang memang, saat merasakan semua itu…
tapi sekali lagi, ini kan bagian dari risiko bersekolah di negeri berpenduduk mayoritas non-Muslim…. jadi ya, dinikmati saja…
aku sendiri, memasak lontong untuk hari idul adha, plus balado telur dan gado-gado… dimakan di rumah…kebetulan sudah masuk hari liburan semester, jadi ya seharian di rumah saja, usai shalat ied….

di satu sisi, menjadi muslim di negara non-Muslim memang penuh tantangan dan menarik, sekaligus mendidik kemandirian sebagai Muslim.. sebab kita tak dimanjakan oleh fasilitas… tapi di sisi lain, terasa kerinduan akan nuansa Islam yang begitu kental di tanah air…

November 7, 2009

Duduknya pengantin

Filed under: sabadunya — by aan @ 4:54 am

Sebenarnya ini sesuatu yang kudengar sudah lama, yaitu ketika aku akan menikah Juli 2007 silam…itu perbincangan antara bapakku dengan perias pengantin yang juga temanku mengaji, bu betty. Tapi aku jadi ingat lagi gara-gara beberapa hari lalu melihat foto pernikahan temanku…

Ini soal sepele kelihatannya atau malah sudah dianggap tradisi yang benar.. tapi aku sekadar ingin berbagi mengenai perbincangan tersebut. Saat itu bu betty bertanya kepada bapakku, atau sebaliknya (aku lupa hehe) mengenai, “apakah pengantin perempuan akan ikut menyaksikan akad nikah, atau akan menunggu di dalam, sampai akad selesai, baru keluar?”
lalu mereka berdua bertanya padaku, bagaimana? aku bilang, “aku ingin lihat proses akad nikah itu”… sebagaimana diketahui, dalam aturan agama kita, perempuan memang tak wajib hadir dalam akad nikah… istilah salah seorang ustad, dalam ceramah yang pernah aku dengar, bahkan pengantin perempuan boleh kok jalan-jalan di mall saat akad nikah berlangsung :) tapi kan nggak kebayang kalo itu terjadi, sementara di rumah ada perhelatan suci, kok pengantin perempuannya keluyuran hehehe… tapi itu penjelasan esktrem mengenai, ketidakhadiran pengantin perempuan di ruang akad nikah, memang tidak wajib..
nah, mendengar jawabanku yang ingin melihat akad nikah berlangsung, maka bapakku bilang : “tolong bu, nanti anak saya duduknya di sebelah saya…setelah akad nikah berlangsung, saya bertukar duduk dengan pengantin pria…”
kemudian bapakku menjelaskan bahwa, sebelum menikah, maka perempuan dan laki-laki itu belum sah statusnya sehingga mereka belum boleh duduk bersanding… sekalipun untuk akad nikah. sehingga sesungguhnya, yang benar adalah pengantin perempuan menunggu di dalam, setelah akad nikah berlangsung barulah pengantin perempuan ini keluar dan duduk bersanding bersama pengantin laki-laki… sebab mereka sudah sah menjadi suami-istri… sesuai aturan agama, yang semula haram menjadi halal…
dalam hal pengantin perempuan ingin menyaksikan acara akad nikah, maka tetap… sebelum akad nikah berlangsung dengan sah, maka kedua calon pengantin tak boleh duduk berdampingan… bu betty mengamini yang diungkapkan bapakku…
“Iya pak, saya sepakat… ” ujar bu betty mengangguk-angguk…
bapakku menambahkan, “kita yang mengerti.. seharusnya mempraktekkan yang kita pahami dan kita ketahui bahwa itu benar menurut ajaran agama.”
Lalu bu betty menambahkan bahwa, “memang banyak tradisi dalam pernikahan yang sebenarnya tak sesuai dengan aturan agama kita… dan ini sulit sekali untuk diluruskan.”
ia mencontohkan hal lain, mengenai acara sungkeman pengantin. Kata dia, “seharusnya kan setelah menikah, istri itu mengikuti suami… jadi pas sungkeman itu, seharusnya bersama-sama menuju orangtua pengantin pria setelah itu kemudian bersama-sama menuju orangtua pengantin perempuan…tapi yang terjadi selama ini, begitu sungkeman, masing-masing sungkem kepada orangtua masing-masing… itu kan praktek yang kurang benar…”
karena itu, sambung bu betty, ia mengaku gembira bertemu dengan bapakku yang bisa sesuai dalam pemahaman aturan agama…
aku mendengarkan perbincangan itu, dan baru menyadari bahwa betapa ada hal-hal prinsip yang musti diketahui tetapi selama ini dianggap sebagai tradisi yang benar…
dan mengubah tradisi itu sama sekali tak mudah…
aku jadi ingat kata ustad Aam Amiruddin, bahwa selama ini kita hidup mempraktekkan agama yang bercampur dengan tradisi… praktek yang seharusnya dikikis pelan-pelan dan itu adalah tugas ulama di zaman ini… pelan-pelan harus mulai mengajarkan yang benar menurut ajaran agama… dan tidak membiarkan praktek-praktek budaya menyusup ke dalam ajaran agama.. “tapi memang itu tidak mudah, tetapi harus dimulai,” kata ustad aam.

aku menulis ini, tidak bermaksud mengatakan bahwa kami sudah melakukan hal yang benar dan orang lain salah tapi aku hanya ingin share… jika ada yang berpendapat lain, aku sama sekali tak ingin mengajak berkonfrontasi atau bermusuhan… toh sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Tahu… dan tugas kita hanyalah berikhtiar, ikhtiar yang tak pernah boleh putus karena merasa puas atau merasa sudah cukup…wallahu alam.

September 25, 2009

Toilet “Islami”

Filed under: sabadunya — by aan @ 1:50 am

Salah satu materi yang diajarkan oleh Barbara, cross culture lecturer di IALF Jakarta, kepada kami sebelum berangkat ke Australia adalah “bagaimana, jika kamu berkunjung ke rumah temanmu yang Australian, dan ingin ke toilet sementara kamu tahu bahwa di toilet sana, tak ada air, hanya tissue?”
dia memberikan empat alternatif jawaban, tapi tak satupun yang “sreg” dengan pilihan kami, para muridnya. seorang temanku berkata, dia akan ngotot minta air ke temannya, soalnya “hihhhh…masa abis buang air ga cebok”…hehehe…
sementara yang lain berkata, akan membawa botol air mineral (di dalam tas) ke dalam toilet, tetapi menurut Barbara,”Kamu kan sedang bermain ke rumah dia, masa ke toilet bawa2 tas… dia akan tersinggung dikira kamu tidak percaya padanya sehingga membawa-bawa tas hanya untuk ke toilet”
huhhh… urusan ke toilet aja, bikin puyeng :)
menurut Barbara ketika itu, tak ada jalan lain kecuali menggunakan toilet tissue yang ada di toilet tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Nita, seorang temanku yang emang sering jail dengan pertanyaan2nya, ketika chating denganku bertanya juga mengenai hal yang sama,”Gimana rasanya ke toilet nggak ada air?” lalu aku mengatakan, kelak, kalo aku dah di Australia, aku akan crita padanya…

Nah, ternyata memang urusan ke toilet ini agak pelik, persis seperti yang diceritakan oleh Barbara :) sementara waktu, aku menyiasatinya dengan selalu membasahi tissue yang akan kupakai terlebih dulu, meskipun itupun agak riskan sebab nggak enak juga kalo diliat oleh orang lain, apa yang aku lakukan itu hehehe… seorang temanku yang lain, Nana, memilih untuk membawa botol kecil yang bisa disemprotkan, di dalam tasnya. jadi setiap kali ke toilet, dia selalu membawa tasnya….sebab di dalam tasnya ada botol kecil itu.. Bahkan kepada kedua putrinya masih berusia 6 dan 7 tahun, yang bersekolah di sekolah umum di sini, dia membekali dengan sebuah gelas plastik, sehingga jika ke toilet ketika di sekolah, anak-anaknya tetap membasuhnya dengan air. ia menjelaskan kepada kedua anaknya itu bahwa “kita ini orang islam, kita berbeda dalam hal buang air”
botolseorang kenalan yang lain, selalu membawa botol bekas air mineral di dalam tasnya. begitu ke toilet, si botol akan diisi dulu… baru kemudian masuk ke dalam toilet… cara itu kemudian yang aku ikuti.. bedanya, botol yang aku gunakan lebih kecil.. bekas botol jus ukuran 300 ml… jadi nggak sebesar botol air mineral yang umumnya 600 ml itu.. botol tersebut aku dapatkan setelah “berburu” ke beberapa toko makanan… setiap kali melihat deretan minuman berbotol, aku selalu berpikir… kok nggak ada yang terbuat dari plastik ya, biar ringan… lagipula kalo dari kaca beling, kalo di dalam tas, khawatir mendadak pecah saat si tas diletakkan secara sembarangan…
beberapa bulan kemudian, aku menemukan botol plastik bekas jus… rasa jus nya sih nggak begitu enak, tapi aku kan beli botolnya hehehe.. jadi ya, biarpun tak begitu enak, tetep aku minum sebab perlu botolnya…:)

Urusan menggunakan air setelah buang air kecil apalagi buang air besar, keliatannya sepele yaa.. tetapi bisa jadi runyam kalo budaya setempat ternyata tak sama dengan budaya kita. lagi pula ini bukan semata soal budaya, tetapi juga aturan agama…islam mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia yang bersih, sebab kebersihan itu sebagian dari iman. Nah salah satu yang diajarkan adalah membasuh dengan air setelah usai buang air kecil dan besar…

Aku ingat ceramahnya Brother Aslam beberapa waktu lalu, mengenai anggapan bahwa orang Islam itu seringkali dikatakan kotor dan kumuh, Brother Aslam mengatakan, itu tidak benar sebab orang islam dan non islam jika dibandingkan sesungguhnya lebih bersih orang Islam. Kata dia, “kalo ada orang Australia, sama-sama lahir dan besar di Australia, yang satu muslim dan yang satunya non muslim, maka akan lebih bersih orang Australia yang Muslim, sebab dia kalo ke toilet akan membasuhnya dengan air, bukan hanya dengan tissue, dia pun wudhu sehari lima kali.”
IMG_1426IMG_1427
Jadi begitulah, urusan air di toilet ini menjadi issue yang cukup vital… Yang unik, toilet di Australia ini standar.. jadi agak sulit untuk menemukan toilet di rumah manapun yang menggunakan selang air, di dekat toiletnya. Nah, orang-orang Muslim di sini, dan juga masjid maupun sekolah Islam, menyiasatinya dengan menempatkan teko menyiram bunga di dalam toilet. jadi setelah buang air kecil/besar… kita bisa membasuh diri dengan air teko tersebut. aku takjub pada awalnya, melihat kreativitas orang-orang Muslim ini.. bagaimana tidak? dengan menggunakan teko ini, artinya mereka tetap menjaga toilet kering, tidak basah apalagi becek gara-gara air yang digunakan seusai buang air. Juga takjub dengan “penemuan” mereka, yang memutuskan bahwa teko adalah alat yang praktis karena bentuknya… tetapi juga isinya cukup untuk digunakan setiap orang…subhanallah…

Di rumahku? hehehe… karena dulu nggak kepikiran mengenai teko tersebut, aku seperti juga beberapa teman lain, meletakkan seember air di dekat toilet dan menyediakan gelas plastik kecil sebagai gayung.. bukannya nggak ada gayung di sini, tetapi harganya cukup mahal.. maklum barang langka.. harga gayung itu sama dengan sekilo harga ayam..:) lagipula dulu aku tak menemukan gayung, jadi berkreasi..gimana caranya.. jadilah pake gelas plastik…
toiletaku senang karena tempat tinggalku, meskipun share house, tetapi aku mendapatkan kamar mandi sendiri.. nggak share dengan teman lain, jadi ya bisa meletakkan ember di dekat toilet tanpa pandangan aneh dari teman serumah yang berasal dari berbagai negara…:)

September 24, 2009

Eid Fitr in Brisbane

Filed under: sabadunya — by aan @ 2:01 am

brisbane
Setelah berpuasa selama Ramadhan, dan mengalami berbagai hal unik selama bulan yang penuh berkah ini… tibalah hari raya, lebaran, eid fitr di Brisbane.
dimulai dengan “kebingungan” mencari kendaraan untuk pergi shalat ied, akhirnya aku dan teman-teman bersepakat menyewa taksi maxi (ukuran gede, penumpang maksimal 10 orang); alhamdulillah lebih mudah sebab aku punya house mate seorang driver taxi maxi..
hari minggu di brisbane adalah hari libur tak cuma untuk orang-orang tetapi juga fasilitas.. public transportation ke berbagai jurusan, baru dimulai pukul 8 pagi.. jadi tak mungkin mengharapkan kendaraan umum untuk pergi shalat ied… apalagi lokasinya tak sebanyak di tanah air.. di sini, hanya beberapa tempat yang menyelenggarakan shalat ied.. sekitar empat ato lima tempat di seluas brisbane ini…itupun umumnya berlokasi di tempat yang jauh dari tempat tinggal, so tak bisa jalan kaki menuju tempat shalat… karena tak bisa dijangkau bahkan dengan berjalan kaki selama 30 menit sekalipun. Karena itu pilihan kendaraannya adalah menyewa mobil (rent car) ato memanggil taksi..
semula kami akan menyewa mobil, tapi ternyata kami kalah cepat.. sebab hari itu adalah weekend maka mobil-mobil rental yang harganya terjangkau itu, sudah lenyap diambil penyewa lain…
Tiba di tempat shalat ied yang kami pilih, di australian international islamic college, kami datang kepagian.. sebab ternyata shalat diselenggarakan pukul 07.30 sementara pukul 06.30 kami sudah tiba di sana.. makanya bisa lihat petugas yang menggelar terpal untuk shalat.. bahkan suamiku dan dua teman lelaki, bantu-bantu ngangkatin kursi serta menyiapkan beberapa hal teknis.. membantu panitia :) alhamdulillah, pagi-pagi sudah bisa memetik pahala dari ladang amal yang tak terduga…insya Allah.IMG_1396
selanjutnya berdatanganlah para jamaah ke tempat shalat yang berlokasi di lapangan belakang sekolah internasional itu…berbangsa-banga.. berbagai budaya.. beragam bahasa dan warna kulit.. tetapi semua bertujuan satu, melaksanakan shalat idul fitri.. mengagungkan asma Allah SWT…IMG_1408
temanku airin berbisik padaku,”terasa banget ya.. bahwa umat islam ini berbangsa-bangsa dan dari berbagai negara.” aku mengangguk.. dan tetap tak henti-hentinya kagum… melihat banyaknya jamaah yang datang dari beragam latar belakang itu…
IMG_1409
IMG_1415
usai shalat, sesama jamaah melakukan peluk cium dan bermaafan.. tentu saja hanya sesama yang kenal dan masih terhitung kerabat. setelah itu, panitia menyediakan sarapan pagi.. rupanya ini merupakan tradisi yang dilaksanakan di sini. panitia menyediakan nasi berbumbu dan lauk (berupa daging & kentang berkuah kari), bagi semua jamaah… setelah mengantri beberapa menit, nasi lezat itupun berpindah ke perut kami..IMG_1433
selesai shalat, kami, para students griffith uni dan keluarganya, berjalan kaki menuju rumah seorang teman sesama student griffith uni… sebab kami berencana melakukan konvoi dengan 4 mobil mengunjungi “sesepuh” indonesia di brisbane.. yaitu Pak Daud dan Pak Iman..
kalo ke rumah Pak Daud, tampaknya hanya students griffith saja.. sementara di rumah Pak Iman, kami bertemu students dari UQ maupun QUT..
tentu saja ini tak sekadar silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk menikmati hidangan ala indonesia.. yakni lontong, opor, sambal goreng kentang/ati, dan makanan khas indonesia lainnya…:)
maklum, di sini susah cari ketupat maupun lontong.. dan lagi kalo masak, sementara yang makan cuma satu orang ato dua orang, kan kurang seru… jadi lebih baik bersilaturahmi ke rumah teman-teman indonesia yang melakukan “open house” jadi..bisa makan makanan indonesia hehehe…
suamiku sih masak beberapa jenis masakan khas lebaran, tentu saja dalam jumlah kecil sebab hanya untuk kami berdua.. tetapi kami gagal membuat lontong…mungkin salah baca resep… dan ketika airin datang ke rumah untuk bermalam, ia mengaku melihat di youtube mengenai cara pembuatan lontong dengan bungkus aluminium foil, ya udah.. sudah jam 10 malam pun, aku ke dapur dan mencoba membuatnya.. hasilnya, nggak begitu mirip tapi yaaa…lumayanlah hehehe..IMG_1364IMG_1371IMG_1370
usai ke rumah kedua sesepuh itu, aku dah kelelahan.. sebab malamnya aku tidur jam 01.30, mencoba mencicil mengerjakan tugas.. airin apalagi, jam 3 baru tidur sementara pukul 5 kami harus sudah siap untuk menuju tempat shalat…
bagaimana rasanya idul fitri di luar negeri? bagiku, alhamdulillah tetap unik dan menyenangkan… sebab yang menjadi poin penting adalah pelaksanaan shalat ied, dan kemudian bermaaf-maafan setelahnya…
kalo soal kangen indonesia, kangen keluarga di bandung.. tak cuma terasa pas idul fitri.. kadang pada hari biasa pun itu terasa…
suamiku dan aku, bergantian menelpon ke rumah orangtua kami masing-masing… menyampaikan permohonan maaf dan bertanya kabar…
kukatakan pada suamiku, bahwa kita musti bersyukur dengan kondisi kita saat ini. bahagia bagiku adalah mensyukuri yang ada dan kita miliki saat ini, tak memikirkan hal-hal yang tak terjangkau sebab itu akan menyakitkan hati…aku bahagia bisa bersama suamiku di saat lebaran, dan itu sudah… bukankah kita tak boleh menunda kebahagiaan, hanya karena kondisinya kita rasa belum ideal? kalo menunggu ideal terus, jadinya kita tak pernah bahagia.. dan itu sangat melelahkan…
merindukan suasana idul fitri di tanah air, adalah hal yang wajar.. tetapi sekali lagi aku merasa harus realistis, wong aku di sini untuk belajar kok.. makanya, biarpun lebaran, tetep mengerjakan tugas.. seusai lebaran besoknya langsung kuliah lagi…
alhamdulillah, berlebaran di hari libur..dan benar-benar libur, nah airin malah harus kabur usai shalat…tanpa mendengarkan ceramah, sebab dia harus menuju Gold Coast (sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil) untuk mengejar kelasnya dan melakukan tugas presentasi…
meskipun begitu, alhamdulillah.. aku ikut senang ketika usai presentasi dia menelponku dan berkata dosennya memuji presentasinya… aku bilang,”alhamdulillah berkah di hari lebaran.”
IMG_1416IMG_1423IMG_1424

September 19, 2009

H-1 Idul Fitri

Filed under: sabadunya — by aan @ 7:43 am

Hari ini adalah hari ke-29 Ramadhan.. alhamdulillah, meskipun jungkir balik berjuang selama Ramadhan untuk bertahan di antara puasa, tugas-tugas kuliah, tarawih dan menyiapkan sahur…
bener-bener perlu komitmen dan perjuangan untuk melakukan semua itu.. kadang badan begitu letih sehingga nggak konsentrasi shalat tarawih, kadang pikiran begitu penuh sehingga malah nggak sempat shalat tarawih.. pusing memikirkan banyak kata yang harus ditulis dalam essay, mencari referensi…
ini pengalaman berharga banget buatku.. bagaimanapun, ini adalah Ramadhan yang unik untukku.. tahun-tahun lalu, aku melaksanakan Ramadhan ketika masih bekerja.. jadi pulang kerja, bisa istirahat nggak perlu mikir-mikir tugas ato segala referensi ato janjian ma dosen, ato nilai kuliah yang jeblok dan sebagainya… dulu, ketika masih bekerja, aku buka puasa di kantor..belasan tahun nyaris buka puasa di kantor, sebab itu jam deadline kerjaan.. tapi setelah itu ya sudah, bisa pulang dan tarawih dengan tenang.. bangun sahur juga lebih santai.. apalagi sebelum menikah, hehehe.. ibu yang menyiapkan semua keperluan sahur.. aku tinggal dibangunkan.. dan makan..:)
di sini, puasa pertama kali di negeri orang dengan status sebagai mahasiswa, tapi juga berstatus sebagai istri..
alhamdulillah, suamiku selama Ramadhan ini nggak sibuk jadi bisa full membantuku.. nggak kebayang kalo dia kerja.. pastinya urusan sahur dan buka puasa jadi berantakan..
ya iyalah, wong kami harus memasak makanan sendiri, nggak bisa beli di supermarket.. nggak ada warung-warung kayak di Indonesia.. Ada dua hal kenapa kami tak membeli makanan jadi, pertama harganya mahal.. jenisnya itu-itu saja yang bisa dimakan.. kentang goreng dan seafood, kedua makanan lain tak jelas kehalalannya…
jadi begitulah..
Tapi kalo pas kuliah sih, aku bisa buka puasa di kampus, dengan menu yang bagus dan sehat, tentunya halal… tapi kan suamiku tetep kudu makan di rumah :)
Ramadhan ini bersamaan dengan due date tugas-tugas kuliah.. jadi semakin bertambah tantangannya..
Kayak hari ini, H-1 Lebaran.. biasanya di Indonesia kita semua sudah dalam posisi libur.. ato setidaknya, beban kerja sudah sangat jauh menurun.. di sini? nggak ada bedanya, justru saat ini aku sedang duduk di meja komputer perpustakaan untuk mengerjakan tugas..:(
tadi pagi sms-an ama ibuku, ternyata kakakku sekeluarga belum tiba di bandung, masih kena macet di malangbong.. padahal berangkat dari purwokerto sudah sejak usai berbuka kemarin… kemacetan arus mudik yang tidak terduga, dikirain ke arah barat sepi.. nggak taunya, malah macet :) tapi kata suamiku, “itu kan serunya mudik, serunya lebaran..”
Iya, bener banget.. di sini, nggak ada yang kayak gitu.. ehhh, ada sih, dari kemarin pengerjaan tugas-tugasku “diinterupsi”oleh urusan sewa taksi buat shalat ied besok…
maklum, di Brisbane ini kalo weekend, yang namanya public transportation pun ikutan liburan.. jadi baru ada bus sekitar pukul 8 pagi dari terminal dekat rumahku.. padahal shalat ied kan dimulai pukul 6.30. makanya bersama teman-teman kampus, kita menyewa taksi.. urusan penjemputan dan sebagainya
Selebihnya, H-1 lebaran ya cuma begitu aja.. tadi malam suamiku bilang mau masak sedikit istimewa buat lebaran, tapi sampe tadi pagi aku berangkat ke kampus, dia masih nyenyak tidur.. ya udah, gimana aa aja deh.. aku mah ikut aja.. toh makna lebaran bukan karena makanannya, tetapi kita musti berpikir, apakah kita ini sudah menjadi hamba yang lebih baik dibandingkan sebelum ramadhan?
Konon, kalo ibadah kita tak berubah menjadi lebih baik, maka kita menjadi orang yang merugi… bayangkan saja, di bulan yang penuh berkah dan ampunan itu, kita berlaku biasa-biasa saja.. seolah sama dengan bulan-bulan lain, malah sibuk berpikir hal-hal yang bukan substansi.. alangkah meruginya kita…
hmmm, seperti yang aku sadari hari ini, aku merasa ibadahku selama Ramadhan ini sangat kurang… sangat jauh dari sempurna, banyak yang tertinggal.. belum lagi hati dan mulut yang sering tergoda… duhhhh, Ya Allah, tolonglah aku…
Apapun, aku telah berusaha memperbaiki diri.. mungkin baru sedikit sekali, aku juga coba merenungkan apa yang sudah aku lakukan… mengevaluasi diri… dan menjadi malu hati sebab begitu compang-camping ibadahku ini.. sedangkan permintaanku pada Allah sangat banyak, sangan menuntut, kepengen ini dan itu… maafkan aku ya Allah..
Insya Allah besok Idul Fitri, semoga rencana shalat ied berjalan lancar dan mendamaikan semua hati… alhamdulillah aku bisa berkonsentrasi untuk shalat ied besok sebab tak perlu memikirkan kelas (meskipun tugas teteplah ada dan dipikirkan…) sebab salah satu temanku, harus masuk kelas pada hari lebaran besok, hari minggu, dan melakukan presentasi… duhhh, romantika sekolah di negeri yang tak meliburkan hari idul fitri yaaa…

September 4, 2009

berhenti bekerja

Filed under: Uncategorized — by aan @ 2:42 am

ada banyak alasan orang untuk berhenti bekerja.. ada yang memang mengundurkan diri, ada yang terpaksa mengundurkan diri dan ada pula yang dipecat alias di-PHK (pemutusan hubungan kerja)…
alasan tersebut menjadi dasar bagi setiap orang untuk menyikapi masalah yang timbul setelah itu… contoh konkretnya, belum lama ini aku mendapat kabar bahwa beberapa temanku dipecat dari tempat bekerjanya… apakah mereka sedih? tentu saja, meskipun kadar kesedihannya mungkin berbeda.. tapi pastinya mereka tak menyangka akan dipecat, dengan cara yang kurang bijak, tanpa ada sinyal apapun sebelumnya dan disampaikan dengan cara yang tidak bersahabat…
informasi pemecatan itu, membuat sipenerima bingung.. sebab dia tak siap, dia tak tahu akan melakukan apa setelah itu… jadi tentu saja, merasa limbung di awal adalah suatu yang wajar…
sebagian orang menjadi stress bahkan depresi karena dipecat, juga wajar.. mengapa? sebab memang kondisi itu tak pernah dipikirkan sebelumnya oleh si penerima.. jadi dia kaget dan tak siap…
tetapi kalo seseorang dengan sadar mengundurkan diri, maka dia berarti sudah siap untuk keluar dari sistem yang dijalaninya selama ini. “aku baik-baik saja meskipun tak lagi bekerja di sana(perusahaan X, misalnya),” ujar seseorang. Yaaaa…tentu saja, bukankah mengundurkan diri dengan kesadaran sendiri adalah hasil pemikiran yang matang, sudah dipertimbangkan baik-buruknya.. dan segala rencana yang ada di depan mata… rencana selanjutnya…
jadi justru aneh, kalo dia mengundurkan diri dengan sukarela lalu kemudian merasa stress dan sedih.. kalopun dia mengalami hal itu, berarti pertimbangannya saat memutuskan untuk keluar kerja itu, belum matang… belum optimal berpikir dan terburu-buru..
bagaimana dengan penyebab ketiga, “terpaksa mengundurkan diri?” hal ini dikarenakan kondisi yang menyebabkan seseorang terpaksa mengundurkan diri, sebab tak lagi ada pilihan… dia tak ingin keluar tetapi segala sesuatunya tak lagi memberikan dia peluang untuk bertahan sehingga terpaksa dia mengundurkan diri..
ini tipe yang berada di tengah-tengah, jadi mengalami kesedihan juga tetapi tak sedalam mereka yang dipecat..
aku, pernah mengalami posisi ini..:)
aku tak ingin keluar dari perusahaan tempatku bekerja, tetapi aku terpaksa keluar sebab pilihan yang ada hanya mengarah ke sana.. ya sudah, akupun memantapkan diri untuk keluar.. dan benar, aku memang sedih di awal, karena sebenarnya akupun tak ingin melakukan hal tersebut. aku melakukannya karena terpaksa… situasi lain yang menjadi pilihanku lebih menyakitkan dan merugikan, jadi kupilih jalan tengah…kupilih jalan yang kukira bisa menjadi jalan keluar terbaik..
sekarang sih,alhamdulillah aku sudah merasa nyaman dengan situasiku saat ini… setidaknya aku merasa bahwa inilah yang terbaik untukku…. meskipun kalo ada orang yang mengatakan,”sayang sekali, mengapa kamu keluar?” aku masih ingin mengiyakan, sebab memang aku pun sebenarnya masih punya rasa suka dengan pekerjaanku yang dulu.. tapi apa mau dikata? pilihannya tak sebaik peluang yang ada.. tak imbang…
nah, bagi teman-temanku yang baru saja dipecat, apapun alasannya… mari merenung sejenak, berintrospeksi diiri.. apakah yang kurang dari pekerjaan yang lalu.. dan apa yang kita rasa perlu diperbaiki ke depan..
apakah rencana kita selanjutnya… itu lebih baik, ketimbang hanya memikirkan mengenai “ketidakadilan” yang kita terima… toh semua sudah terjadi, dan kalopun ada kesempatan untuk kembali.. setelah semua hal itu terjadi, pastinya kita tak mau kembali kan?
jadi melangkahlah terus.. insya Allah, di depan sana ada banyak kesempatan yang lebih baik…

September 2, 2009

Berbuka puasa di Kampus Griffith

Filed under: sabadunya — by aan @ 2:13 am

bunga 1bunga 3bunga 2bunga 4
Saat ini sudah masuk musim semi (spring), bersamaan dengan hari kesebelas Ramadhan. Setelah menjalani sepuluh hari berpuasa di Brisbane, aku bisa merasakan bahwa berpuasa di negeri dengan penduduk Muslim minoritas, tak jauh beda dengan berpuasa di tanah air. Apalagi di musim semi begini, tidak panas tapi tidak juga dingin.. hanya angin bertiup cukup lumayan… makin lumayan sebab perut dalam keadaan kosong, jadi cuaca semakin terasa dingin..
Tapi Alhamdulillah, aku senang dengan cuaca ini… cukup bersahabat, kecuali di kampus kadang harus bersebelahan komputer dengan students yang sedang makan siang.. hmmm, bau makanannya membuat pikiran melayang..:) ini nggak seberapa, toh selama ini pun, kalo bulan puasa sudah memasuki hari ke sepuluh dan seterusnya, nuansa Ramadhan di tanah air kian menipis dan bergeser ke nuansa lebaran…
Di luar semua itu, aku bahagia sebab kampusku ternyata menyediakan buka puasa bersama, setiap hari selama Ramadhan ini, secara gratis. Yup, kampusku yang kata banyak orang adalah “hanya kampus kecil” ( dan banyak yang menyangka sebagai universitas swasta…padahal negeri, karena kurang terkenal, sudah begitu lokasi kampusnya yang berada di tengah hutan lindung..hehehe) menyediakan santapan yang lezat setiap berbuka puasa..
ketika adzan magrib dikumandangkan, para Muslim dan Muslimah yang berada di mushala kampus (yang sejuk dan bersih) segera menyantap kurma yang lezat… tentang ini temanku terheran-heran,”kalo di Indonesia, kurma kayak gini sebungkus harganya Rp 58 ribu…pantesan enak..”, katanya. selain itu pula air mineral, dan kadang-kadang ada tambahan berupa yoghurt atau susu. setelah berbuka dengan kurma dan minnum, kami melaksanakan shalat magrib.
Usai itu, kita bergerak ke common room, tak jauh dari mushala.. untuk menyantap dinner (makan malam). menunya lebih sering menu makanan Arab… nasi berbumbu dan lauknya, kadang ayam bakar, kadang kambing gule, kadang ayam kari dsb… untuk minumnya, tersedia cola atau kadang diselingi jus. menu 1menu 2
untuk semua ini, kami tak perlu mengeluarkan uang.. sebab griffith university muslim student association (GUMSA) menyediakannya.. aku belum tahu pasti, dari mana mereka — GUMSA– memperoleh dana untuk menyediakan buka puasa dan makan malam setiap hari selama Ramadhan secara gratis ini.. tapi kalo melihat bagaimana indah dan sejuknya mushala kampus kami, yang pembangunannya dibiayai antara lain oleh pemerintah Arab saudi, maka aku kira pendanaan untuk iftaar (buka puasa) ini pun tak jauh beda…
yang menarik, para sisters (muslimah) dipersilakan untuk duduk di ruang tunggu, dan menunggu dilayani oleh brothers yang bertugas. sementara para brothers (muslim) yang lain, harus antre untuk mendapatkan makanan…
temanku berkata,” waahhhh… ini harus disampaikan ke orang indonesia ya, bahwa perempuan itu dilayani, bukannya melayani” katanya berkelakar..
aku mengira, pelayanan untuk para sisters ini dikarenakan adanya pengaruh dari budaya Arab — memang di kampusku kebanyakan muslim adalah orang Arab — yang sangat tegas melarang percampuran lelaki dan perempuan. Demi menghindari percampuran lelaki dan perempuan di dalam antrean mengambil makanan, maka panitia pun memilih untuk melayani para sisters…
“how many plates sister?” tanya panitia yang memang seluruhnya adalah brothers ..alias tak ada panitia perempuan dalam kegiatan buka puasa ini. Dan kami,para sisters, tinggal menyebutkan berapa piring yang kami perlukan, beberapa menit kemudian piring berisi nasi berbumbu dan lauknya, akan diantar ke meja kami..
menyenangkan juga..:)
tapi di hari lain, para sisters dipersilakan mengambil sendiri makanannya, sebab ada cukup banyak makanan yang bisa dibagi.. atau ruangannya memungkinkan untuk menghidangkan buffet bersamaan untuk brothers dan sisters…
kalau sudah berada di ruang makan ini, rasanya seperti berbuka puasa di negeri sendiri…menyenangkan… apalagi kita juga merasakan persaudaraan dengan muslim dari bangsa-bangsa lain, ternyata kita tak sendiri menjadi muslim di negeri bermayoritas penduduk non Muslim ini…

August 26, 2009

Belajar Islam di Australia

Filed under: sabadunya — by aan @ 6:28 am

IMG_1194Semester ini aku memutuskan untuk mengambil mata kuliah pilihan “Islam in the Modern World”…. aku tertarik membaca course outline-nya.. dan karena MA convenor ku mengizinkan, ya sudah aku ambil saja…
setelah masuk ke dalam kelas yang jumlah mahasiswanya hampir 40 orang, aku salut juga. Ternyata, para peminat mata kuliah ini sebagian besar non-Muslim. Yang kulihat berkerudung hanya beberapa orang, lainnya.. ya mahasiswa-mahasiswa bule itu… sebagian Australia tapi ada juga yang dari Eropa… eh, ada juga mahasiswa Asia, dari Cina dan Philipina…
Yang lebih menarik lagi, sebagian besar dari mahasiswa ini mengambil mata kuliah tersebut sebagai mata kuliah pilihan! hanya satu mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini sebagai mata kuliah wajib…

Menarik?
Ya tentu saja, sebab mereka hidup di negara barat.. tepatnya di Australia, dan Islam adalah agama minoritas di sini maupun di Eropa, di Cina dan Philipina… Ketika dosennya bertanya, mengapa mengambil mata kuliah ini, sebagian besar menjawab : saya tertarik mempelajari apa sih Islam itu…
ada yang punya pengalaman pribadi dengan Islam, di masa kecilnya… ada yang penasaran dengan Islam sejak adanya kasus bom 11 september 2002 dan islam menjadi perbincangan terus di media… ada yang penasaran sejak lama dengan Islam, dan ingin tahu lebih dalam… ada juga yang ingin mengetahui islam lebih banyak supaya bisa bekerja di institusi Islam… dan seterusnya… menarik banget mendengarkan jawaban mereka…

Lalu mata kuliahnya seperti apa? Isinya tentang apa islam… di minggu pertama, aku senyum-senyum sendiri mendengarkan isi materi kuliahnya. Gimana enggak? materinya itu sudah aku pelajaran belasan tahun lalu pas aku duduk di bangku SD. Materinya tentang Islam itu agama yang dibawa Nabi Muhammad, Tuhannya orang islam itu adalah Allah, ada Rukun Islam yang terdiri dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan berhaji… Kemudian juga dibacakan oleh pak dosennya, bagaimana isi Alquran… ia membacakan surat Al Fatihah di kelas… Dijelaskan bahwa Nabi Muhammad lahir kapan, ia adalah yatim dan umur enam tahun beliau sudah menjadi yatim piatu dan seterusnya… pokoknya persis pelajaran agama saat SD..
Aku bilang ke temanku, sesama Muslim dari Indonesia, saat selesai kelas tersebut, “Aku tadi kuliah, pelajarannya tentang pengenalan Islam seperti zaman kita di SD dulu…” ujarku padanya dan dia terbahak…

Lalu mengapa aku mengambil mata kuliah ini? pertama, aku ingin tahu seperti apa Islam diajarkan di sini, di universitas umum di Australia… Griffith Uni kan universitas negeri dan mempunyai banyak fakultas (school) tapi juga menarik sebab Griffith mengajarkan mata kuliah ttg studi Islam… aku ingin tahu, apa yang diajarkan dan bagaimana cara dosennya mengajarkan… sebab bagiku, itu juga bagian dari belajar untuk mendakwahkan islam kepada non Muslim..
Kedua, aku tertarik untuk mendengarkan apa kata orang non Muslim, tentang Islam… aku ingin tahu, apa keingintahuan mereka, apa pertanyaan-pertanyaan mereka…
ketiga, aku memang ingin tahu apa yang terjadi di dunia Islam di zaman modern ini… persis seperti nama matakuliahnya… aku memang muslim sejak lahir, tapi aku tak pernah belajar khusus tentang Islam secara formal… selain hal-hal mendasar yang sudah aku pahami sejak dulu, di mata kuliah ini aku pun mendapatkan beberapa hal baru… lebih memahami bagaimana islam dan konteksnya…islam 1
dosennya cerdas, dan bisa memberikan pemahaman yang mendasar sehingga menimbulkan simpati yang mendengarkan… di luar itu, mata kuliah ini juga sulit buatku lho… bacaannya banyak, pake ujian pula… hmmmm, sebenarnya aku tak mau sit in ujian yaa.. sebab pastinya sangat “menakutkan” setelah sepuluh tahun nggak kuliah, dan ujug2 kuliah dengan mata kuliah yang ada ujiannya..
tapi gimana lagi, mata kuliah ini begitu menarik… jadi aku ambil juga.. bismillah aja deh.. dua minggu lagi aku ujian mid semester lho… ngeri juga, tapi ya dijalanin lah…:)
aku sudah mencoba nego ama dosennya, apakah bisa mengganti ujian-ujian tersebut (mid semester test dan final test) dengan tugas essay… semula dia mau mengiyakan, tapi kemudian meralatnya.. haduhhh nasib-nasib.. dia bilang, “saya kira kamu nggak ada kesulitan dengan test itu.. hanya multiple choice, dan jawaban singkat.. dan itu lebih mudah daripada kamu membuat essay 5000 kata..”
jadilah aku menyerah…aku ikuti saja nasehatnya. cuma sebagai mahasiswa postgraduate, dia memberikan beban lebih kepadaku… kata dia, mata kuliah ini untuk mahasiswa undergraduate, karenanya tugas essay nya 2000 kata, tapi “untukmu.. sebagai mahasiswa postgraduate… kamu harus bikin essay 3000 kata…”
hmmmm…baiklah pak…

August 19, 2009

Ramadhan di Negri Orang

Filed under: sabadunya — by aan @ 7:41 am

Ini adalah bagian dari konsekuensi pilihan yang aku putuskan beberapa bulan lalu. Yup, aku memilih untuk melanjutkan studi ke luar negeri, ke australia tepatnya di kota Brisbane… Kini beberapa hari lagi Ramadhan tiba, bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam di manapun berada…
berpuasa di bulan Ramadhan memang penuh kenikmatan, apalagi jika bersama dengan keluarga.. makan sahur bersama, ngantuk-ngantuk dikit hehehe… lalu saat berbuka puasa, berkumpul di meja makan bersama, kemudian dilanjutkan dengan shalat tarawih berjamaah… subhanallah indahnya…
lalu kini, aku tinggal di negeri orang, dengan mayoritas penduduk non-Muslim… jangankan mengalami suasana khas Ramadhan, mendengar suara adzan (dari corong pengeras suara masjid) setiap kali waktu shalat, tak pernah aku alami sejak tinggal di sini… hhhmmm, rindunya pada tanah air.. rindu pada keindahan suasana ramadhan di Bandung…
Tapi ini memang konsekuensi dari pilihan yang aku ambil… bukankah keberadaanku di sini sekarang adalah doa-doa yang senantiasa aku panjatkan bertahun-tahun… ikhtiar dan segala jerih payah yang aku jalankan selama bertahun-tahun… dan, aku harus menerimanya sebagai suatu “paket”, bukan parsial…
jadi, sekolah di negeri orang, dengan beasiswa, ditemani suami alhamdulillah, mendapatkan banyak pengalaman hidup yang baru…tapi ada hal-hal yang terlepas..salah satunya, kebersamaan dengan keluarga besar, nuansa agamis yang kental…
tantangan berpuasa di sini pun berbeda… makanya dalam beberapa ceramah agama yang aku ikuti belakangan ini, selain mengingatkan mengenai Ramadhan, mengenai puasa dan kesehatan, ada hal baru yang aku dapatkan. bagaimana menjawab pertanyaan teman-teman non muslim, tentang puasa….sekaligus hal ini menjadi kesempatan bagi kita sebagai muslim, untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang damai, bukan agama dengan kekerasan…
tantangan dakwah yang menarik bukan?? sebab setiap kita mempunyai kewajiban untuk berdakwah…sampaikanlah walapun satu ayat…

Beberapa ustadz yang memberikan ceramah, menyampaikan hal yang hampir sama… “undanglah teman-teman dan kolega kita yang non muslim, saat waktu berbuka… mereka akan bertanya, mengapa ada acara seperti ini.. dan itulah jalan bagi kita untuk menjelaskan sedikit demi sedikit tentang Islam…”
mengapa persoalan “menjelaskan Islam” menjadi demikian penting? sebab islam adalah minoritas di negeri ini, sementara pada waktu yang bersamaan, media lebih suka memberitakan hal-hal yang buruk tentang islam.. wajah islam di media adalah wajah kekerasan, wajah terorisme… padahal itu bukan ajaran Islam…
sebab islam adalah “rahmatan lil alamin”….rahmat bagi seluruh alam…

ini akan menjadi tantangan baru bagiku, baik dalam melaksanakan ibadah puasa itu sendiri, maupun kesempatan untuk menjelaskan Islam lewat bulan ramadhan ini kepada teman-teman dan lingkungan non muslim…
hmmmm…. bismillah..semoga aku bisa mengambil peluang pahala dari sini.., tolonglah aku ya Allah..amin..

Next Page »

Powered by WordPress.com