Sebenarnya ini sesuatu yang kudengar sudah lama, yaitu ketika aku akan menikah Juli 2007 silam…itu perbincangan antara bapakku dengan perias pengantin yang juga temanku mengaji, bu betty. Tapi aku jadi ingat lagi gara-gara beberapa hari lalu melihat foto pernikahan temanku…
Ini soal sepele kelihatannya atau malah sudah dianggap tradisi yang benar.. tapi aku sekadar ingin berbagi mengenai perbincangan tersebut. Saat itu bu betty bertanya kepada bapakku, atau sebaliknya (aku lupa hehe) mengenai, “apakah pengantin perempuan akan ikut menyaksikan akad nikah, atau akan menunggu di dalam, sampai akad selesai, baru keluar?”
lalu mereka berdua bertanya padaku, bagaimana? aku bilang, “aku ingin lihat proses akad nikah itu”… sebagaimana diketahui, dalam aturan agama kita, perempuan memang tak wajib hadir dalam akad nikah… istilah salah seorang ustad, dalam ceramah yang pernah aku dengar, bahkan pengantin perempuan boleh kok jalan-jalan di mall saat akad nikah berlangsung
tapi kan nggak kebayang kalo itu terjadi, sementara di rumah ada perhelatan suci, kok pengantin perempuannya keluyuran hehehe… tapi itu penjelasan esktrem mengenai, ketidakhadiran pengantin perempuan di ruang akad nikah, memang tidak wajib..
nah, mendengar jawabanku yang ingin melihat akad nikah berlangsung, maka bapakku bilang : “tolong bu, nanti anak saya duduknya di sebelah saya…setelah akad nikah berlangsung, saya bertukar duduk dengan pengantin pria…”
kemudian bapakku menjelaskan bahwa, sebelum menikah, maka perempuan dan laki-laki itu belum sah statusnya sehingga mereka belum boleh duduk bersanding… sekalipun untuk akad nikah. sehingga sesungguhnya, yang benar adalah pengantin perempuan menunggu di dalam, setelah akad nikah berlangsung barulah pengantin perempuan ini keluar dan duduk bersanding bersama pengantin laki-laki… sebab mereka sudah sah menjadi suami-istri… sesuai aturan agama, yang semula haram menjadi halal…
dalam hal pengantin perempuan ingin menyaksikan acara akad nikah, maka tetap… sebelum akad nikah berlangsung dengan sah, maka kedua calon pengantin tak boleh duduk berdampingan… bu betty mengamini yang diungkapkan bapakku…
“Iya pak, saya sepakat… ” ujar bu betty mengangguk-angguk…
bapakku menambahkan, “kita yang mengerti.. seharusnya mempraktekkan yang kita pahami dan kita ketahui bahwa itu benar menurut ajaran agama.”
Lalu bu betty menambahkan bahwa, “memang banyak tradisi dalam pernikahan yang sebenarnya tak sesuai dengan aturan agama kita… dan ini sulit sekali untuk diluruskan.”
ia mencontohkan hal lain, mengenai acara sungkeman pengantin. Kata dia, “seharusnya kan setelah menikah, istri itu mengikuti suami… jadi pas sungkeman itu, seharusnya bersama-sama menuju orangtua pengantin pria setelah itu kemudian bersama-sama menuju orangtua pengantin perempuan…tapi yang terjadi selama ini, begitu sungkeman, masing-masing sungkem kepada orangtua masing-masing… itu kan praktek yang kurang benar…”
karena itu, sambung bu betty, ia mengaku gembira bertemu dengan bapakku yang bisa sesuai dalam pemahaman aturan agama…
aku mendengarkan perbincangan itu, dan baru menyadari bahwa betapa ada hal-hal prinsip yang musti diketahui tetapi selama ini dianggap sebagai tradisi yang benar…
dan mengubah tradisi itu sama sekali tak mudah…
aku jadi ingat kata ustad Aam Amiruddin, bahwa selama ini kita hidup mempraktekkan agama yang bercampur dengan tradisi… praktek yang seharusnya dikikis pelan-pelan dan itu adalah tugas ulama di zaman ini… pelan-pelan harus mulai mengajarkan yang benar menurut ajaran agama… dan tidak membiarkan praktek-praktek budaya menyusup ke dalam ajaran agama.. “tapi memang itu tidak mudah, tetapi harus dimulai,” kata ustad aam.
aku menulis ini, tidak bermaksud mengatakan bahwa kami sudah melakukan hal yang benar dan orang lain salah tapi aku hanya ingin share… jika ada yang berpendapat lain, aku sama sekali tak ingin mengajak berkonfrontasi atau bermusuhan… toh sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Tahu… dan tugas kita hanyalah berikhtiar, ikhtiar yang tak pernah boleh putus karena merasa puas atau merasa sudah cukup…wallahu alam.
seorang kenalan yang lain, selalu membawa botol bekas air mineral di dalam tasnya. begitu ke toilet, si botol akan diisi dulu… baru kemudian masuk ke dalam toilet… cara itu kemudian yang aku ikuti.. bedanya, botol yang aku gunakan lebih kecil.. bekas botol jus ukuran 300 ml… jadi nggak sebesar botol air mineral yang umumnya 600 ml itu.. botol tersebut aku dapatkan setelah “berburu” ke beberapa toko makanan… setiap kali melihat deretan minuman berbotol, aku selalu berpikir… kok nggak ada yang terbuat dari plastik ya, biar ringan… lagipula kalo dari kaca beling, kalo di dalam tas, khawatir mendadak pecah saat si tas diletakkan secara sembarangan…

aku senang karena tempat tinggalku, meskipun share house, tetapi aku mendapatkan kamar mandi sendiri.. nggak share dengan teman lain, jadi ya bisa meletakkan ember di dekat toilet tanpa pandangan aneh dari teman serumah yang berasal dari berbagai negara…:)

















Semester ini aku memutuskan untuk mengambil mata kuliah pilihan “Islam in the Modern World”…. aku tertarik membaca course outline-nya.. dan karena MA convenor ku mengizinkan, ya sudah aku ambil saja…
Akhir pekan lalu kami berjalan-jalan ke Harbour Town, di Gold Coast. Harbour Town (HT) adalah kawasan factory outlet yang terkenal karena harga miring dari barang-barang yang ditawarkan di sana… Banyak orang Indonesia yang senang berbelanja di sana, terutama saat akan kembali ke tanah air. “Ya..beli oleh-oleh, barang bermerek tapi harganya miring,” ungkap seorang teman yang akan balik ke tanah air dalam waktu dekat.
