Anak Sempurna atau Bahagia?

kalimat itu adalah sebuah judul buku terjemahan terbitan Mizan. Beberapa tahun lalu, kalo tidak salah tahun 2004, meresensi buku tersebut… menurutku yang jarang membaca sebuah buku sampai selesai, buku ini sangat bagus untuk para orang tua. isinya mengenai berbagai tindakan orang tua yang baik disadari atau tidak mendorong anak-anak mereka untuk berperilaku sebagai anak unggulan…demi sebuah kesempurnaan. Buku ini secara sederhana sekaligus menarik, menggambarkan kisah atau contoh kisah perilaku orang tua yang sebagian “menghalalkan” segala cara demi kebahagiaan mereka, bukan kebahagiaan anak…

Buku ini secara mendasar bertanya kepada para orang tua, apakah yang diinginkan orang tua sesungguhnya? kebahagiaan anak atau kebahagiaan orangtua? kebahagiaan anak atau kesempurnaan anak? sebab menurut penulis buku ini (aku lupa namanya), kesempurnaan anak tidak bisa dengan serta merta berarti kebahagiaan anak.. jadi orang tua diajak berpikir sekaligus memilih, apakah ingin anaknya sempurna atau anaknya bahagia?
Hal ini dikarenakan seringkali orang tua memaksakan sesuatu kepada anak, dengan alasan, demi kebahagiaan anak… Bahwa juga, seolah-olah kalau anak mereka sempurna, berarti anak mereka bahagia…

Dorongan untuk membuat anak menjadi sempurna, menurut sang penulis, antara lain karena semakin ketatnya persaingan dewasa ini.. mau bekerja, harus bersaing…jadi kalo tidak unggul, mana bisa menang. alasan lainnya, keinginan untuk menjadi anak sempurna adalah karena obsesi orang tua yang belum tercapai. Dulu, orang tuanya ingin menjadi pemain piano yang hebat, tapi karena nggak kesampaian, maka disuruhlah anaknya les piano karena orang tua ingin punya anak yang piawai bermain piano, padahal sang anak tidak berminat.. Anaknya lebih minat pada, misalnya, bermain bola. atau anak disuruh ikut les pelajaran ini dan itu agar masuk ranking di kelas, padahal si anak kemampuan akademiknya biasa saja dan lebih menonjol bakat seninya.. tapi diabaikan sang orang tua..

Sejak membaca buku itu, paradigma ku berubah.. dan aku menerapkan ini kepada para keponakanku… sebab dulu, ketika membaca buku itu, aku belum punya anak, bahkan belum menikah. Kini, aku sudah punya anak.. aku akan berusaha menerapkan isi buku itu, mengambil yang baik-baik dari buku itu.. sebab aku semakin menyadari bahwa menjadi orang tua memang tak mudah, kadang ada obsesi atau ambisi pribadi yang belum tercapai, ingin kita estafetkan kepada anak kita..padahal, anak kita adalah pribadi yang berbeda…

Ngomong soal belum menikah dan belum punya anak, buku ini tak cuma mengesankan isinya..tetapi aku punya story menarik dengan buku ini. Gara-gara meresensi buku ini, aku diminta jadi pembicara dalam sebuah seminar mengenai anak! aku sudah menolak dengan mengatakan, aku hanya meresensi..kenapa nggak minta orang Mizan menjadi pembicara.. mereka lebih tahu mengapa menerjemahkan buku tersebut, lagipula aku belum menikah, dan belum punya anak..nggak pas kalo bicara soal anak di seminar yang hadirinnya adalah para orang tua…

Tapi si panitia keukeuh..mereka bilang sebab penulisnya adalah orang luar, maka tak mungkin mereka menghadirkan penulis dari luar negeri itu. pihak mizan juga sudah dihubungi ternyata tak bisa hadir..makanya mereka terus memintaku untuk hadir dan menjadi pembicara.. aku pun menyetujui.. tapi kemudian aku ingat, untuk bertanya siapa pembicara lainnya.. Ternyata, pembicara lainnya adalah Neno Warisan yang artis dan sekarang bergiat dengan Islam & anak-anak, serta pakar pendidikan yang dulu kepada Lab School Prof. Arif Rachman.. sementara moderatornya adalah presenter tv yang kala itu naik daun, Yasmin Mumtaz!!!! Lengkaplah sudah rasa deg-degan dan tegang yang aku rasakan..bayangkan, aku cuma wartawan yang nggak punya pengalaman dengan anak-anak… harus bicara seforum dengan para pakar anak-anak, terkenal pula.. haduhhhh duuhhhh…

Baiklah, saat itu aku memang kepala biro redaksi Jawa Barat.. anak buahku banyak di seluruh wilayah Jawa Barat, tapi kalo aku disuruh bicara soal koran atau kewartawanan, aku masih percaya diri..toh aku juga sering menjadi pembicara ato pengisi acara untuk beragam pelatihan jurnalistik, dengan peserta yang beragam… mulai mahasiswa, sampai para dosen atau peneliti.. tapi kan yang aku bicarakan hal-hal yang menjadi bagian dari pekerjaanku sehari-hari. Lha ini, bicara soal anak gara-gara meresensi buku…tapi aku dah terlanjur mengiyakan…aku berdoa aja..semoga aku nggak tampil memalukan.. dan aku makin nervous ketika duduk di meja seminar…hadirinnya 600 orang !!! Ketika itu seminarnya di Masjdi At-Tiin TMII Jakarta.

Alhamdulillah, aku bisa menyesuaikan diri…malah tak kusangka, ada juga hadirin yang bertanya padaku pada sesi tanya jawab…nggak cuma tanya ke Neno atau Pak Arif…Panitia juga bersikap baik padaku meskipun aku bukan siapa-siapa dibandingkan dengan tiga orang lainnya yang sudah terkenal se-Indonesia itu :D

Itu pengalaman yang sangat mengesankan untukku..juga yang mengesankan adalah honornya..hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s