Dua hari lalu, aku membaca di Kompas dotcom mengenai perjuangan para ibu di Jakarta,khususnya, yang ingin memberikan ASI eksklusif buat bayi-bayinya…luar biasa banget.. Nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan upaya yang aku lakukan…
Di artikel-artikel itu aku membaca, seorang ibu yang musti duduk di bawah meja kerjanya, saat dia mau memompa ASI untuk anaknya.. Ibu yang lain melakukan pemompaan di toilet kantor, sehingga ada saat ketika orang mengantre di luar toilet, sebab si ibu ini sedang memompa ASI… Keduanya melakukan hal tersebut dikarenakan mereka bekerja dari pagi sampe sore tetapi ingin tetap menyusui bayinya dengan ASI. di sisi lain, kantor tempat mereka bekerja tak mempunyai ruangan untuk melakukan aktivitas pemompaan ASI itu.
Aku cukup beruntung, karena aku melahirkan bayiku di Brisbane.. aku mendapatkan lumayan pengetahuan mengenai menyusui dan aku mendapatkan lingkungan yang mendukung untuk melakukan hal tersebut. Ketika jalan-jalan ke mal, ada saja ruangan untuk menyusui…lumayan mudah ditemukan, dan tempatnya nyaman..
Sementara kalo kuliah, aku bisa mengatur jadwal untuk menyusui anakku, atau aku memompa ASi dulu.. toh aku ke kampus tak lama, hanya sekitar satu sampai tiga jam saja…itupun hanya seminggu sekali atau seminggu dua kali…
Kalo terpaksa, aku bisa membawa bayiku ke kampus, jadi tetap bisa menyusui dia.. karena di kampusku pun ada tempat untuk menyusui, setidaknya di ruangan kerja teman-temanku
Kalo soal pengetahuan bahwa ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi kita, sudah lama aku tahu.. tapi di Indonesia, belum banyak yang mempraktekkannya karena banyak hal. Mulai dari promosi yang begitu gencar mengenai “bagusnya susu formula” sehingga begitu melekat di kepala banyak ibu di Indonesia, hingga persoalan itu tadi, harus meninggalkan bayi untuk bekerja kembali…
Urusan kerja ini pun tak mudah, sebab sebagian perempuan bekerja karena kebutuhan rumah tangga, demi menyokong ekonomi keluarga.. makanya, persoalannya menjadi pelik..
Alhamdulillah sekarang sudah ada kesadaran untuk melakukan kembali menyusui anak dengan ASI… sebab dulu, ada masa di mana menyusui anak dengan ASi dianggap “kampungan” atau dinilai tak keren karena dibilang tak mampu membeli susu formula yang memang harganya tinggi…
Padahal, soal menyusui ini sudah jelas aturannya di Alquran, untuk kita umat Islam. Susui anakmu selama dua tahun… pastilah ada maksudnya kenapa Alquran menyuruh begitu, pastilah banyak manfaatnya.. dan terbukti benar… Masih di koran yang sama, ada wawancara dengan Dr Utami Roesli, yang menjelaskan manfaat ASI yang luar biasa…Jadi menyusui anak dengan ASI bukanlah kampungan, juga tidak susah kalo kita mengikhtiarkannya…
Persoalan ASI yang sedikit, pengalaman pribadiku siy, kalo kita tenang..insya Allah ASI-nya lancar.. aku juga merasakan, kalo aku stress trus mompa ASI..dapatnya cuma sedikit sekali.. Tapi kalo kita tenang, rileks..insya Allah dapatnya banyak. Lagipula sekarang sudah banyak informasi soal bagaimana agar ASI jadi banyak, bisa dari makanan juga yang dikonsumsi..dan seterusnya…
Mengenai tempat untuk melakukan pemompaan ASI (istilahnya ruang laktasi) kini masih menjadi kendala di berbagai tempat, belum disediakan oleh pihak perusahaan atau tempat kerja yang lain. Padahal tak perlu mewah atau bagaimana, yang penting ada ruangan tertutup dan aman, disediakan lemari es untuk menyimpannya…
Eh, soal lemari es ini, aku juga lihat di koran bahwa sekarang ada jasa kurir untuk mengantar jemput ASI..hebat yaa, jadi peluang bisnis juga.. Jadi para ibu yang sudah memompa ASI-nya bisa minta kurir untuk mengantarkan ASI tersebut ke rumah mereka.. jadi bayi mereka bisa tetep mengonsumsi ASI sebanyak yang dibutuhkan…
Soal ASI eksklusif selama 6 bulan inilah yang krusial, sebab si bayi tak boleh mengonsumsi apapun selain ASI. Makanya enam bulan ini sangat penting… AKu membayangkan jika saja ada aturan perusahaan/kantor yang mengizinkan agar cuti melahirkan bisa dilakukan selama 6 bulan atau 7 bulan. Tentunya akan lebih mendukung program ASI eksklusif ini… Toh, pada ujungnya, negara yang akan diuntungkan juga..dengan memiliki anak-anak yang cerdas, kemudian ibunya juga bekerja dengan lebih tenang… pokoknya bakalan banyak keuntungannya.
Kalo soal ketiadaan pegawai selama 6 bulan atau 7 bulan dianggap terlalu lama, kan bisa menggunakan karyawan magang.. ini juga bisa memberikan manfaat bagi yang magang.. sebab dia punya pengalaman kerja, yang di zaman susah nyari kerja gini, pastilah bermanfaat.. sementara pihak perusahaan tak perlu menggaji full karyawan magang ini.. memang ada effort, musti ngasih pelatihan..tapi kan sama saja… nggak ada yang nggak gratis..
Di negara lain, kalo nggak salah Iran, malah seorang ibu yang bekerja, saat dia melahirkan, diberi cuti selama satu tahun!
Aku bertanya-tanya, apakah sudah ada lembaga yang mengajukan upaya tersebut, berjuang menambah waktu cuti hamil/melahirkan bagi karyawati? Jika ya, alangkah menyenangkannya..semoga saja upaya ini segera membuahkan hasil. Jika belum, kenapa tak ada yang memulai ya? Aku sih terinsipirasi dengan informasi soal cuti melahirkan setahun itu tadi… di negara lain bisa, kenapa di Indonesia tak bisa?

Nice artikel mbak.. tulisan ini sekaligus juga mampu memberikan pencerahan bagi ibu-ibu di indonesia yg sudah terkontaminasi oleh berbagai iklan susu formula. Padahal asi penting banget bagi pertumbuhan anak anak kita , sebaga generasi penerus bangsa Indonesia.
Saya juga jadi ingat mbak masa memerah asi di kantor, secara saya pns tingkat kabupaten yg tidak memungkinkan memerah ASI pada kondisi toilet yang ndak memungkinkan kebersihannya. Jadi kadang pake acara kunci pintu dulu dan menunggu bapak2 seruangan keluar makan siang (maklum ruangannya dipake ber 4. Sukses selalu ya mbak